Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurikulum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 September 2024

Kepemimpinan Pembelajaran dalam Asesmen Peserta Didik

Kepemimpinan pembelajaran dalam konteks asesmen peserta didik merujuk pada peran guru atau pendidik dalam mengarahkan dan memfasilitasi proses penilaian yang berpusat pada siswa. Ini melibatkan lebih dari sekadar memberikan tes atau tugas; pemimpin pembelajaran aktif menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan setiap siswa.

Peran Kepemimpinan Pembelajaran dalam Setiap Tahapan Asesmen

1.    Perencanaan Asesmen:

  • Merancang tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur: Guru menetapkan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan relevan dengan kehidupan nyata.
  • Memilih instrumen yang tepat: Guru memilih berbagai jenis instrumen asesmen yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa.
  • Memilih instrumen asesmen yang bervariasi: Guru memilih berbagai jenis asesmen (tes tertulis, proyek, presentasi, portofolio, dll.) untuk mengukur berbagai aspek kompetensi peserta didik.
  • Merancang tugas autentik: Tugas-tugas yang diberikan relevan dengan kehidupan nyata siswa dan memungkinkan mereka menunjukkan pemahaman konsep secara mendalam.
  • Menentukan kriteria penilaian: Guru menetapkan standar yang jelas untuk mengukur pencapaian siswa.
  • Mengembangkan rubrik penilaian: Pemimpin pembelajaran memastikan bahwa rubrik penilaian yang digunakan jelas, objektif, dan dapat diandalkan untuk mengukur pencapaian peserta didik.

2.    Pelaksanaan Asesmen:

  • Menciptakan suasana yang kondusif: Guru menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka.
  • Memberikan dukungan yang tepat: Guru memberikan bimbingan dan dukungan kepada siswa selama proses asesmen.
  • Menggunakan berbagai strategi: Guru menggunakan berbagai strategi asesmen untuk mengakomodasi perbedaan gaya belajar siswa.
  • Mengintegrasikan asesmen ke dalam proses pembelajaran: Asesmen tidak hanya dilakukan di akhir pembelajaran, tetapi juga menjadi bagian integral dari setiap tahap pembelajaran untuk memberikan umpan balik yang cepat dan tepat.
  • Memfasilitasi pembelajaran aktif: Guru menciptakan lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran, seperti diskusi kelompok, pemecahan masalah, dan eksperimen.
  • Memberikan umpan balik yang konstruktif: Guru memberikan umpan balik yang spesifik, relevan, dan tepat waktu untuk membantu peserta didik memperbaiki kinerja mereka.
  •  Mengadaptasi pembelajaran: Guru mampu menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar masing-masing peserta didik.

3.    Asesmen:

  • Mengumpulkan data yang valid dan reliabel: Guru mengumpulkan data yang akurat tentang pencapaian siswa.
  • Menganalisis data secara mendalam: Guru menganalisis data untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa.
  • Memberikan umpan balik yang konstruktif: Guru memberikan umpan balik yang spesifik dan bermanfaat untuk membantu siswa memperbaiki kinerja mereka.
  • Menggunakan berbagai teknik asesmen: Guru menggabungkan berbagai teknik asesmen untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang kemampuan peserta didik.
  • Melibatkan peserta didik dalam proses asesmen: Guru mendorong peserta didik untuk melakukan refleksi diri dan menilai pekerjaan mereka sendiri.
  • Menggunakan data asesmen untuk memperbaiki pembelajaran: Guru menganalisis data asesmen untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan membuat penyesuaian terhadap pembelajaran.
  • Menganalisis hasil asesmen: Pemimpin pembelajaran membantu guru dalam menganalisis hasil asesmen untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan peserta didik, serta mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan.
  • Memberikan umpan balik: Pemimpin pembelajaran memberikan umpan balik yang konstruktif kepada guru dan peserta didik berdasarkan hasil asesmen.
  • Mengambil tindakan perbaikan: Pemimpin pembelajaran mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, seperti melakukan revisi terhadap rencana pembelajaran atau memberikan pelatihan tambahan kepada guru.   

4.    Pelaporan Capaian Belajar:

  • Mengkomunikasikan hasil asesmen: Pemimpin pembelajaran mengkomunikasikan hasil asesmen kepada peserta didik, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya secara jelas dan mudah dipahami.
  • Menggunakan bahasa yang mudah dipahami: Guru menggunakan bahasa yang sederhana dan jelas dalam menyampaikan hasil asesmen.
  • Membuat laporan yang komprehensif: Laporan mencakup informasi tentang perkembangan siswa secara keseluruhan, bukan hanya nilai akhir.
  • Mengkomunikasikan hasil asesmen kepada peserta didik, orang tua, dan pihak terkait: Guru menyampaikan hasil asesmen dengan cara yang jelas dan mudah dipahami.
  • Menggunakan hasil asesmen untuk membuat keputusan pembelajaran: Guru menggunakan hasil asesmen untuk merencanakan langkah-langkah pembelajaran selanjutnya.
  • Membuat laporan kemajuan belajar: Pemimpin pembelajaran membantu guru dalam membuat laporan kemajuan belajar peserta didik yang komprehensif dan akurat.
  • Menggunakan hasil asesmen untuk pengambilan keputusan: Pemimpin pembelajaran menggunakan hasil asesmen untuk mengambil keputusan yang terkait dengan pengembangan kurikulum, program pembelajaran, dan pengembangan profesional guru.

Prinsip-Prinsip Kepemimpinan Pembelajaran dalam Asesmen

  • Berpusat pada siswa: Semua keputusan yang berkaitan dengan asesmen didasarkan pada kebutuhan dan karakteristik siswa.
  • Beragam: Guru menggunakan berbagai jenis asesmen untuk mendapatkan gambaran yang lengkap tentang kemampuan siswa.
  • Berkelanjutan: Asesmen dilakukan secara terus-menerus untuk memantau perkembangan siswa.
  • Transparan: Guru melibatkan siswa dalam proses asesmen dan memberikan penjelasan yang jelas tentang kriteria penilaian.
  • Kolaboratif: Guru bekerja sama dengan siswa, orang tua, dan rekan sejawat dalam merancang dan melaksanakan asesmen.
  • Berpusat pada peserta didik: Semua kegiatan asesmen dirancang untuk memenuhi kebutuhan dan minat peserta didik.
  • Bersifat formatif: Asesmen digunakan untuk memberikan umpan balik yang berkelanjutan untuk memperbaiki pembelajaran.

Manfaat Kepemimpinan Pembelajaran dalam Asesmen

  • Meningkatkan motivasi belajar peserta didik: Peserta didik merasa lebih terlibat dan termotivasi ketika mereka memahami tujuan pembelajaran dan mendapatkan umpan balik yang konstruktif.
  • Memperbaiki kualitas pembelajaran: Guru dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran dan membuat penyesuaian yang diperlukan.
  • Memfasilitasi diferensiasi pembelajaran: Guru dapat memberikan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu siswa.
  • Meningkatkan keterlibatan orang tua: Orang tua dapat lebih terlibat dalam proses pembelajaran anak mereka.
  • Membuat keputusan pembelajaran yang lebih baik: Guru dapat membuat keputusan pembelajaran yang lebih tepat berdasarkan data asesmen.
  • Meningkatkan kemampuan peserta didik: Peserta didik memiliki kesempatan untuk mengembangkan berbagai kompetensi, seperti berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi.
Singkatnya, kepemimpinan pembelajaran dalam asesmen adalah kunci untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan berpusat pada siswa. Dengan menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan pembelajaran, guru dapat membantu siswa mencapai potensi maksimal mereka.

Semoga Bermanfaat.

Perancangan Asesmen yang Berpusat pada Peserta Didik

Perancangan asesmen yang berpusat pada peserta didik adalah suatu pendekatan dalam merancang penilaian yang menempatkan siswa sebagai subjek utama dalam proses belajar dan penilaian. Dalam pendekatan ini, asesmen tidak hanya sekadar mengukur pencapaian siswa terhadap tujuan pembelajaran, tetapi juga memberikan umpan balik yang konstruktif untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa.

Karakteristik utama perancangan asesmen yang berpusat pada peserta didik:

  • Berfokus pada Proses: Asesmen tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga mengamati proses berpikir dan pemahaman siswa selama belajar.
  • Beragam Metode/Bentuk: Menggunakan berbagai metode asesmen yang sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pembelajaran, seperti tes tertulis, proyek, presentasi, portofolio, dan observasi.
  • Melibatkan Siswa: Siswa aktif terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan asesmen, sehingga mereka memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri.
  • Berorientasi pada Pengembangan: Asesmen digunakan sebagai alat untuk membantu siswa mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka, serta menetapkan tujuan pembelajaran selanjutnya.
  • Kontekstual: Asesmen dirancang sesuai dengan konteks pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari.
  • Bersifat Formatif: Asesmen dilakukan secara terus-menerus selama proses pembelajaran untuk memberikan umpan balik yang segera kepada siswa sehingga mereka dapat memperbaiki kinerja mereka.
  • Melibatkan Siswa: Siswa dilibatkan secara aktif dalam proses penilaian, baik dalam menentukan kriteria penilaian maupun dalam melakukan refleksi diri.
  • Berorientasi pada Pertumbuhan: Asesmen lebih fokus pada perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu daripada hanya pada hasil akhir.
  • Menghargai Perbedaan Individu: Asesmen mengakui bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar dan kecepatan belajar yang berbeda-beda.
  • Bersifat Autentik: Asesmen dirancang untuk merefleksikan situasi nyata yang mungkin dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
  • Berkelanjutan: Asesmen dilakukan secara terus-menerus sepanjang proses pembelajaran, bukan hanya pada akhir pembelajaran.

Tujuan:

  • Meningkatkan Motivasi Belajar: Dengan melibatkan siswa dalam proses asesmen, motivasi belajar mereka akan meningkat karena mereka merasa dihargai dan memiliki tujuan yang jelas.
  • Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis: Asesmen yang berpusat pada peserta didik mendorong siswa untuk berpikir kritis, menganalisis informasi, dan memecahkan masalah.
  • Memberikan Umpan Balik yang Konstruktif: Umpan balik yang diberikan berdasarkan hasil asesmen membantu siswa memahami kesalahan mereka dan memperbaiki kinerja mereka.
  • Memfasilitasi Pembelajaran yang Personalisasi: Asesmen memungkinkan guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dan gaya belajar masing-masing siswa.
  • Membantu Siswa Mencapai Potensi Maksimal: Melalui umpan balik yang konstruktif, siswa dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan mengembangkan strategi belajar yang efektif.
  • Membuat Pembelajaran Lebih Bermakna: Dengan menghubungkan asesmen dengan pengalaman belajar siswa, pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.
  • Membantu Guru dalam Mengambil Keputusan Pembelajaran: Hasil asesmen dapat digunakan oleh guru untuk menyesuaikan pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
  • Memahami Proses Belajar Siswa: Mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan gaya belajar yang berbeda-beda pada setiap siswa.
  • Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Membantu guru dalam menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individu siswa.

Contoh Penerapan:

  • Portofolio: Siswa mengumpulkan berbagai karya selama satu periode untuk menunjukkan perkembangan kemampuan mereka.
  • Penilaian Antar Teman: Siswa memberikan umpan balik kepada teman sekelasnya tentang pekerjaan mereka.
  • Proyek Kelompok: Siswa bekerja sama dalam menyelesaikan proyek yang kompleks dan saling memberikan umpan balik.
  • Penilaian diri: Siswa diminta untuk merefleksikan pembelajaran mereka dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri.
  • Diskusi kelompok: Melalui diskusi, guru dapat mengamati kemampuan siswa dalam berkomunikasi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah.
  • Proyek berbasis masalah: Siswa diajak untuk mencari solusi atas masalah nyata yang relevan dengan kehidupan mereka.
  • Presentasi: Siswa mempresentasikan hasil proyek mereka kepada teman sekelas atau guru.
  • Jurnal refleksi: Siswa menuliskan pemikiran dan perasaan mereka tentang proses belajar yang mereka alami.

Manfaat:

  • Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Asesmen yang berpusat pada peserta didik membantu guru mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran.
  • Memperkuat Hubungan Guru-Siswa: Keterlibatan siswa dalam proses asesmen memperkuat hubungan antara guru dan siswa.
  • Mempersiapkan Siswa untuk Kehidupan Nyata: Keterampilan yang dikembangkan melalui asesmen yang berpusat pada peserta didik sangat berguna dalam kehidupan nyata.

Perancangan asesmen yang berpusat pada peserta didik merupakan pendekatan yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan membantu siswa mencapai potensi maksimal mereka. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses penilaian, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih bermakna dan memotivasi.

Semoga Bermanfaat.

Bacaan lainnya:

Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 

Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 

Terima Kasih

Jumat, 20 September 2024

Tips Melaksanakan Pembelajaran Terdiferensiasi


Setelah merencanakan pembelajaran terdiferensiasi, langkah selanjutnya adalah melaksanakannya di kelas. Berikut beberapa tips yang dapat Anda gunakan:

1. Fleksibilitas dalam Pengelolaan Waktu
  • Jangan terpaku pada jadwal: Berikan waktu yang cukup bagi siswa untuk menyelesaikan tugas sesuai dengan kecepatan masing-masing.
  • Sediakan waktu tambahan: Bagi siswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas, berikan kesempatan untuk melanjutkan di waktu lain.
  • Contoh: Jika siswa sedang mengerjakan proyek sains, berikan waktu yang fleksibel untuk setiap kelompok menyelesaikan eksperimen mereka.
2. Ciptakan Lingkungan Belajar yang Mendukung
  • Buat suasana kelas yang positif: Dorong siswa untuk saling membantu dan menghargai perbedaan.
  • Sediakan berbagai sumber belajar: Pastikan siswa memiliki akses ke berbagai sumber belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
  • Contoh: Sediakan sudut baca di kelas dengan buku-buku yang bervariasi tingkat kesulitannya, atau gunakan teknologi seperti tablet atau komputer untuk mengakses materi pembelajaran online.
3. Komunikasi yang Efektif
  • Berikan umpan balik yang konstruktif: Berikan umpan balik yang spesifik dan membantu siswa memperbaiki pekerjaannya.
  • Lakukan konferensi individual: Luangkan waktu untuk berbicara dengan setiap siswa secara individu untuk mengetahui kemajuan belajar mereka.
  • Contoh: Setelah siswa selesai mengerjakan tugas, berikan komentar tertulis pada pekerjaan mereka yang menunjukkan kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan.
4. Berkolaborasi dengan Kolega
  • Diskusikan dengan guru lain: Tukarkan ide dan pengalaman dengan guru mata pelajaran lain.
  • Buat kelompok kerja: Bekerja sama dengan guru lain untuk mengembangkan materi pembelajaran yang terdiferensiasi.
  • Contoh: Jika Anda mengajar matematika, berkolaborasi dengan guru bahasa Indonesia untuk membuat proyek lintas mata pelajaran yang melibatkan pemecahan masalah matematika dalam konteks cerita.
5. Evaluasi yang Berkelanjutan
  • Revisi rencana pembelajaran: Sesuaikan rencana pembelajaran berdasarkan hasil evaluasi.
  • Minta masukan dari siswa: Tanyakan kepada siswa tentang apa yang mereka sukai dan tidak sukai dari pembelajaran.
  • Contoh: Setelah selesai satu unit pembelajaran, adakan kuis singkat untuk mengetahui pemahaman siswa. Gunakan hasil kuis untuk mengidentifikasi area yang perlu diperkuat.
6. Manfaatkan Teknologi
Gunakan berbagai aplikasi pembelajaran: Manfaatkan aplikasi pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
Buat video pembelajaran: Buat video pembelajaran pendek yang menjelaskan konsep-konsep sulit.
Contoh: Gunakan aplikasi pembelajaran interaktif untuk membuat kuis yang dapat disesuaikan dengan tingkat kesulitan masing-masing siswa.

Tips Tambahan:
Jangan takut untuk mencoba hal baru: Teruslah belajar dan mengembangkan keterampilan Anda dalam menerapkan pembelajaran terdiferensiasi.
Bersabar: Membangun kelas yang inklusif dan mendukung membutuhkan waktu dan usaha.
Nikmati prosesnya: Lihatlah pembelajaran terdiferensiasi sebagai sebuah perjalanan, bukan tujuan akhir.

Contoh Penerapan di Kelas
Mata Pelajaran: Matematika (Topik: Pecahan)

Diferensiasi Konten:
  • Siswa yang sudah mahir dapat mengerjakan soal-soal pecahan yang melibatkan operasi campuran.
  • Siswa yang masih kesulitan dapat menggunakan manipulatif (misalnya, potongan pizza) untuk memahami konsep pecahan.
Diferensiasi Proses:
  • Siswa dapat memilih untuk bekerja secara individu, berpasangan, atau dalam kelompok kecil.
  • Siswa dapat menggunakan berbagai sumber belajar, seperti buku teks, video tutorial, atau aplikasi pembelajaran.
Diferensiasi Produk:
Siswa dapat membuat poster, presentasi, atau cerita pendek tentang pecahan.

Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 


Terima Kasih


Tips Merancang Pembelajaran Terdiferensiasi


Pembelajaran terdiferensiasi adalah pendekatan pembelajaran yang mengakui bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar, minat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan belajar yang fleksibel dan menantang bagi semua siswa.

1. Kenali Siswa
  • Lakukan asesmen: Gunakan berbagai alat asesmen (tes, proyek, observasi) untuk mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, minat, dan gaya belajar siswa.
  • Buat profil siswa: Buat profil singkat untuk setiap siswa agar Anda dapat lebih memahami kebutuhan mereka.
  • Gunakan kelompok belajar yang heterogen: Dengan mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan berbeda, siswa yang lebih kuat dapat membantu teman sebayanya yang masih lemah.
2. Tentukan Tujuan Pembelajaran yang Jelas
  • Fokus pada kompetensi: Pastikan tujuan pembelajaran sesuai dengan kurikulum dan dapat dicapai oleh semua siswa.
  • Gunakan berbagai tingkatan kognitif: Libatkan siswa dalam berbagai aktivitas yang menantang pemikiran tingkat tinggi, seperti analisis, evaluasi, dan kreativitas.
3. Diferensiasi Konten
  • Tawarkan berbagai sumber belajar: Sediakan buku teks, artikel, video, atau simulasi dengan tingkat kesulitan yang berbeda.
  • Gunakan peta konsep atau grafik organizer: Bantu siswa memvisualisasikan konsep yang sulit.
  • Berikan pilihan topik: Izinkan siswa memilih topik yang sesuai dengan minat mereka.
  • Contoh: Dalam pembelajaran tentang pecahan, siswa yang sudah mahir dapat mengerjakan soal cerita yang lebih kompleks, sementara siswa yang masih kesulitan dapat menggunakan manipulatif (misalnya, potongan pizza) untuk memahami konsep pecahan.
4. Diferensiasi Proses
  • Berikan berbagai strategi pembelajaran: Tawarkan berbagai aktivitas seperti diskusi kelompok, presentasi, atau proyek individu.
  • Gunakan pusat pembelajaran: Sediakan berbagai pusat pembelajaran (misalnya, pusat membaca, pusat menulis, pusat matematika) di mana siswa dapat bekerja secara mandiri atau berkelompok.
  • Tawarkan bimbingan yang berbeda: Berikan bimbingan yang lebih intensif bagi siswa yang membutuhkan.
  • Contoh: Dalam pembelajaran tentang siklus air, siswa dapat memilih untuk membuat model siklus air, membuat presentasi tentang dampak perubahan iklim terhadap siklus air, atau menulis cerita pendek tentang petualangan tetesan air.
5. Diferensiasi Produk
  • Berikan pilihan produk akhir: Izinkan siswa untuk memilih bentuk produk akhir yang sesuai dengan minat dan gaya belajar mereka.
  • Gunakan rubrik: Buat rubrik yang jelas untuk menilai produk akhir siswa.
  • Tawarkan umpan balik yang konstruktif: Berikan umpan balik yang spesifik dan membantu siswa memperbaiki pekerjaannya.
  • Contoh: Setelah mempelajari tentang hewan, siswa dapat membuat laporan, membuat poster, membuat presentasi, atau bahkan membuat video animasi tentang hewan favorit mereka.
6. Evaluasi yang Beragam
  • Gunakan berbagai instrumen penilaian: Jangan hanya mengandalkan tes tertulis, tetapi gunakan juga portofolio, proyek, dan observasi.
  • Berikan kesempatan untuk merefleksi: Minta siswa untuk merefleksikan proses belajar mereka.
  • Contoh: Selain tes tertulis, guru dapat meminta siswa untuk membuat jurnal refleksi tentang apa yang telah mereka pelajari dan kesulitan apa yang mereka hadapi.
Tips Tambahan:
  • Libatkan siswa dalam proses pembelajaran: Minta siswa untuk memberikan masukan tentang apa yang mereka butuhkan.
  • Kerjasama dengan orang tua: Libatkan orang tua dalam mendukung pembelajaran anak di rumah.
  • Bersikap fleksibel: Jangan takut untuk menyesuaikan rencana pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa.
Semoga Bermanfaat.

Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 


Terima Kasih

Kamis, 19 September 2024

Kebelanjutan Komunitas Belajar Guru Antar Sekolah


Memiliki kesinambungan keberadaan Komunitas Belajar Guru merupakan tahap lanjut yang dapat menjadi tantangan tersendiri bagi setiap Komunitas Belajar. Tahap ini akan memastikan proses baik yang sudah berjalan dalam komunitas terus berlanjut, memberikan dampak positif bagi anggota, serta terwujudnya tiga ide besar.

1. Setiap anggota mempunyai peran di dalam komunitas belajar.

Seluruh anggota komunitas diberikan kesempatan dan tanggung jawab untuk mengelola kegiatan dengan peran yang berbeda. Kesempatan ini akan menjadi proses belajar bagi seluruh anggota menghadapi tantangan yang berbeda-beda sesuai dengan perannya serta bagaimana strategi mengatasinya.

Dampak pemberian peran ini akan menguatkan rasa memiliki serta semangat kebersamaan untuk memastikan kegiatan dapat berjalan sesuai tujuan dan kebutuhan anggota.

2. Merayakan setiap Capaian.

Setiap pertemuan yang sudah dilakukan patut untuk diapresiasi atau dirayakan hasil yang sudah dicapai sesederhana apapun capaian itu. Hal ini untuk memberikan penghargaan dan memunculkan rasa puas atas capaian yang diperoleh bersama. 

Bentuk apresiasi dapat berupa penekanan kembali apa saja yang sudah dicapai, tepuk tangan atau makan bersama (secara sederhana). Apresiasi diberikan sesuai pencapaiannya, dan tepat waktu supaya anggota dapat merasakan manfaatnya.

3. Kolaborasi dengan pihak atau komunitas lain.

Dalam berkegiatan, komunitas belajar melibatkan pihak di luar komunitas yang dapat berbagi praktik baik, memperkaya pembelajaran anggota, memecahkan masalah, dan membantu pencapaian tujuan kegiatan.

4. Implementasi Kolaborasi Karya.

Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah melakukan implementasi kolaborasi karya. Dalam kurun waktu tertentu, komunitas belajar dapat bekerja sama dengan komunitas belajar lain di wilayahnya untuk melakukan kegiatan berbagi praktik baik dengan melakukan kolaborasi karya. Fokus pada kolaborasi ini adalah berbagi kegiatan apa saja yang sudah dilakukan serta bagaimana perwujudan tiga ide besar.

Kegiatan kolaborasi ini dapat dilakukan dalam wujud kemasan yang sederhana tapi bermakna, bukan kegiatan seremonial dan ajang pameran yang berbiaya besar.

Untuk menjaga kesinambungan ini, terdapat beragam tantangan yang mungkin dihadapi, mulai dari adanya pergantian kepala sekolah, bertambah atau berkurangnya anggota, turunnya antusias anggota, hingga hal-hal lain yang tidak terprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, setiap anggota perlu cakap dalam:

1. Pengelolaan Waktu
Keterampilan pengelolaan waktu sangat diperlukan oleh guru yang memiliki banyak kegiatan di internal sekolah masing-masing maupun di kegiatan eksternal. Salah satu strategi yang dapat digunakan untuk mengatasi hal ini adalah menyusun program sesuai dengan tingkat kepentingannya dari yang mendesak, penting, hingga rutin. 

Pola pikir (mindset) bahwa komunitas belajar merupakan bagian penting untuk pengembangan diri, perlu dimiliki. Tujuannya agar kegiatan komunitas belajar ini menjadi bagian penting dan tidak hanya diikuti sesempatnya saja.

2. Pengelolaan Energi
Pengelolaan alokasi waktu berkaitan langsung dengan pengelolaan energi. Komunitas belajar perlu mengembangkan strategi berkegiatan yang dapat mengefisienkan energi. Seperti bentuk kegiatan (luring atau daring), kolaborasi antaranggota dalam pengelolaan, atau persiapan pembahasan agar proses belajar terfokus.

3. Keterampilan Berkomunikasi
Komunikasi yang efektif antar anggota dalam komunitas menjadi kunci membangun hubungan yang lebih dekat dan produktif. Dengan adanya komunikasi yang efektif, diharapkan antaranggota komunitas saling memahami, saling percaya, dan mau berperan aktif untuk mengembangkan komunitas belajar.

4. Pengelolaan Emosi
Perbedaan yang terdapat pada komunitas dalam berbagai aspek seperti karakter, kebiasaan, dan cara bekerja dapat mempengaruhi kondisi emosi seluruh anggotanya. Pengenalan dan penerimaan atas perbedaan-perbedaan tersebut dapat meminimalkan potensi munculnya emosi negatif dan konflik. Tetap fokus pada tujuan bersama dan meminimalkan pengaruh emosi negatif.

Semoga Bermanfaat.

Pelaksananaan Komunitas Belajar Guru Antar Sekolah


Komunitas belajar diharapkan menjadi wadah bagi kepala sekolah untuk membantu menyelesaikan tantangan di satuan pendidikan masing-masing, oleh karena itu pelaksanaan aktivitas di dalam komunitas belajar perlu dilakukan sesuai dengan kebutuhan. 

Namun demikian, sebelum melakukan beragam aktivitas di dalam komunitas belajar, perlu dipastikan terlebih dahulu komunitas belajar menjadi tempat yang aman, nyaman, dan ramah bagi semua anggotanya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat nilai dan komitmen bersama yang telah dibuat.
  1. Buatlah Suasana Terbuka dan Inklusif: Pastikan semua anggota merasa diterima dan didengar dalam komunitas tersebut. Hindari sikap yang mengecualikan atau mengintimidasi.
  2. Fasilitasi Pertemuan Rutin: Adakan pertemuan rutin di mana anggota bisa berkumpul, berbagi ide, dan menyelesaikan masalah bersama. Pertemuan ini bisa berupa diskusi kelompok kecil atau besar. 
  3. Bangun Kolaborasi: Dorong kolaborasi antar-anggota dalam pembuatan rencana belajar, pengembangan program, atau proyek-proyek pembelajaran bersama. Hal ini harapannya dapat memperkuat hubungan dan meningkatkan kreativitas.
  4. Sediakan Sumber Daya Pendukung: Pastikan anggota memiliki akses ke sumber daya yang mereka butuhkan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Pastikan bahwa topik yang akan dipelajari adalah yang berdasarkan kebutuhan dan aspirasi dari anggota. Dukungan ini dapat diberikan dalam bentuk pelatihan, lokakarya, atau, referensi belajar lain yang dibutuhkan.
  5. Hargai Kontribusi: Kenali dan hargai kontribusi setiap anggota dalam komunitas. Ini bisa berupa penghargaan formal atau pujian terbuka.
  6. Bangun Komunikasi Terbuka: Pastikan ada saluran komunikasi yang terbuka antara anggota komunitas dan tim kecil. Ini memungkinkan anggota untuk menyampaikan masalah, ide, atau kebutuhan mereka.\
  7. Fokus pada Pembelajaran Berkelanjutan: Dorong budaya pembelajaran berkelanjutan di mana anggota terus menerus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan mereka.
Setelah komunitas belajar telah terbangun menjadi wadah yang aman, nyaman, dan ramah bagi anggota, selanjutnya dapat dilakukan beragam aktivitas di dalam komunitas dengan model pelaksanaan yang sesuai dengan kebutuhan anggota.

Model-model pelaksanaan komunitas belajar ini dapat sangat beragam, setidaknya ada tiga contoh model pelaksanaan komunitas belajar guru, yaitu sebagai berikut:
  1. Model dengan belajar bersama
  2. Model dengan menerapkan siklus inkuiri
  3. Model dengan belajar bersama dan menerapkan siklus inkuiri
Dari ketiga model ini, yang sangat diutamakan di dalam komunitas belajar guru antar sekolah adalah model ketiga, yaitu belajar bersama dan menerapkan siklus inkuiri. Hal ini dikarenakan siklus inkuiri menjadi salah satu cara untuk mendorong keberlanjutan komunitas belajar.

Semoga Bermanfaat

Membangun Komunitas Belajar Guru Antar Sekolah


Untuk mengoptimalkan komunitas belajar antarsekolah sebagai wadah berkolaborasi bagi guru, maka perlu dilakukan langkah-langkah sederhana yang dapat dimulai dalam membangun komunitas belajar guru antarsekolah.

1. Membentuk Tim Kecil
Tim kecil merupakan sekumpulan orang yang memiliki pengaruh kuat dalam hal positif di dalam komunitas (biasanya disebut penggerak) dan memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya komunitas belajar. Pembentukan tim kecil merupakan langkah awal yang dapat dilakukan di dalam membangun komunitas belajar. Orang-orang di dalam tim kecil ini diharapkan menjadi inisiator untuk menggerakkan ragam bentuk kolaborasi di dalam komunitas belajarnya.

Untuk komunitas belajar yang sudah memiliki tim kecil atau penggerak perannya dapat dilanjutkan sebagaimana yang telah ada, namun untuk komunitas belajar yang belum memiliki tim kecil atau penggerak dapat melakukan hal-hal berikut:

a. Membangun percakapan awal
Pada tahap ini, penggerak/inisiator dapat melakukan percakapan awal dengan rekan lainnya di satu komunitas belajar terkait pentingnya mengoptimalisasi komunitas belajar yang ada. Percakapan awal ini diharapkan dapat menjadi awalan perbincangan untuk sama-sama mengetahui ekspektasi terhadap komunitas belajar.

b. Menemukan pengikut pertama
Setelah melakukan percakapan awal, tahap selanjutnya adalah menemukan rekan-rekan di dalam komunitas belajar yang memiliki semangat yang sama dan dengan sukarela mau menggerakkan komunitas belajar agar lebih optimal lagi.
Rekan-rekan ini biasanya terdiri dari orang-orang yang memiliki keresahan yang sama dan memiliki kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan.

c. Melakukan penguatan bersama
Setelah menemukan pengikut pertama, selanjutnya tim kecil dapat belajar bersama terkait pentingnya kolaborasi di dalam komunitas belajar dalam meningkatkan hasil belajar murid. 
Bersama tim kecil dapat melihat hal-hal penting terkait pengelolaan komunitas belajar. Hal tersebut diharapkan sebagai bagian dari penguatan dari tim kecil itu sendiri. Selanjutnya, tim kecil dapat memberikan penguatan seputar pentingnya komunitas belajar kepada anggota lainnya.

2. Menyamakan Persepsi

Setelah tim kecil memiliki pemahaman yang sama tentang pentingnya komunitas belajar guru antarsekolah, selanjutnya dapat dilakukan penyamaan persepsi dengan rekan-rekan lainnya di komunitas. Penyamaan persepsi difokuskan pada pentingnya kolaborasi antar guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran murid. Cara untuk melakukan penyamaan persepsi ini sangat fleksibel untuk dilakukan, misalnya untuk komunitas yang anggotanya cukup banyak dapat dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil.

Dari penyamaan persepsi ini, harapannya setiap orang di dalam komunitas belajar memiliki pandangan yang sama tentang komunitas belajar yang diikutinya, sehingga setiap anggota memiliki ekspektasi yang sesuai dalam bentuk kolaborasi yang akan dilakukan nantinya. Setelah penyamaan persepsi dilakukan, selanjutnya yang dapat dilakukan adalah membangun nilai dan komitmen bersama.

3. Membangun Nilai dan Komitmen Bersama.

Nilai dan komitmen bersama merupakan pondasi untuk berkolaborasi, oleh karena itu dalam membangun komunitas belajar perlu memiliki kesepakatan terhadap nilai dan komitmen bersama. Perlu dipahami bahwa keberadaan nilai dan komitmen bersama adalah agar setiap anggota dapat merasakan bahwa komunitas belajar menjadi tempat yang aman dan ramah bagi mereka dalam beraktivitas dan berkolaborasi, sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berbagi, dan tumbuh bersama.

Beberapa Contoh Nilai:
  1. Keterbukaan: Kami menghargai diskusi terbuka dan jujur tentang praktik mengajar kami, serta siap menerima kritik yang konstruktif dari sesama anggota komunitas belajar.
  2. Kerjasama: Kami menghargai kolaborasi dan berbagi ide dengan sesama anggota komunitas belajar.
  3. Profesionalisme: Kami menghargai praktik implementasi yang berkualitas tinggi dan berusaha untuk meningkatkan praktik kami secara konsisten.
  4. Menghargai: Kami menghargai perilaku yang mencerminkan respek terhadap anggota lain seperti mendengarkan semua pendapat yang ada, tidak memotong pembicaraan, memberikan ruang yang aman dan nyaman untuk semua anggota berpendapat dan mengeluarkan idenya.
  5. Mengapresiasi: Kami memberikan apresiasi atas kontribusi dan keberhasilan anggota komunitas belajar dalam meningkatkan pembelajaran murid dan memperbaiki praktik mengajar.
Beberpa Komitmen Bersama:
  • Kami akan menjadi anggota tim kolaboratif yang positif dan memberikan kontribusi.
  • Kami akan berkolaborasi untuk sebuah pencapaian yang optimal.
  • Kami akan menjadi bagian dari solusi untuk setiap tantangan.
  • Kami akan berupaya maksimal untuk mencapai tujuan bersama
  • Kami akan saling berbagi praktik baik.
Dalam membangun nilai dan komitmen bersama setiap komunitas belajar tentu memiliki kekhasan masing-masing, oleh karena itu nilai dan komitmen bersama dapat disesuaikan dengan kondisi tersebut.

4. Membagi Tanggungjawab Bersama

Untuk merawat keberlanjutan dalam komunitas belajar, maka perlu adanya pembagian peran. Pembagian peran ini penting untuk menciptakan tanggung jawab bersama antar anggota di dalam komunitas.

Berikut pembagian peran kunci di dalam komunitas belajar.

Peran Tim Kecil (Aktivitas yang Perlu Dilakukan)
  • Memberikan penguatan tentang pentingnya komunitas belajar dan berkolaborasi di dalamnya.
  • Menjadi fasilitator dalam penguatan tentang pentingnya komunitas belajar.
  • Melihat tantangan dan kebutuhan kolektif untuk dapat tersolusikan bersama.
  • Memfasilitasi penyepakatan nilai dan komitmen bersama.
  • Memfasilitasi pertemuan-pertemuan rutin komunitas belajar.
  • Menjadi teladan (representasi positif) dalam penerapan nilai dan komitmen bersama.
  • Menganalisis tantangan yang dihadapi di dalam komunitas belajar dan memberikan rekomendasi solusi yang dapat diterapkan bersama.
  • Menentukan kelompok-kelompok kecil untuk pembahasan topik spesifik sesuai kebutuhan anggota (jika diperlukan).
Peran Tim Pembelajaran:
  • Menganalisis kebutuhan belajar anggota
  • Menentukan topik belajar bersama
  • Menentukan fasilitator atau narasumber juga dibutuhkan
  • Mendorong hasil belajar diimplementasikan di satuan pendidikan masing-masing
  • Mendorong hasil belajar didiseminasikan ke guru-guru di satuan pendidikan masing-masing, khususnya yang terkait dengan topik yang dipelajari
Peran Tim Dokumentasi:
  • Mendokumentasikan aktivitas di setiap pertemuan, baik dalam bentuk tulisan, gambar, ataupun video.
  • Mengarsipkan dokumentasi dengan rapi dan mudah dimanfaatkan anggota lain
Peran Tim Acara:
  • Menyusun alur kegiatan yang dilakukan di komunitas belajar.
  • Memberikan referensi narasumber untuk kegiatan belajar bersama.
Peran Tim Logistik:
  • Memastikan ketersediaan peralatan yang dibutuhkan dalam pertemuan.
  • Menyiapkan ruangan untuk siap digunakan untuk pertemuan.
Peran Tim Keuangan:
  • Mencatat pengeluaran dan pemasukan keuangan komunitas.
  • Melaporkan kondisi keuangan setiap tiga bulan sekali
Semoga Bermanfaat.

Komunitas Belajar Guru yang Berpusat Pada Murid


Guru memiliki peran yang sangat penting dalam transformasi pembelajaran, guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, motivator, dan evaluator pembelajaran. Transformasi pembelajaran merupakan upaya untuk mengubah paradigma pembelajaran dari yang bersifat konvensional, berpusat pada guru, dan berorientasi pada konten, menjadi pembelajaran yang bertransformasi berpusat pada murid, dan berorientasi pada kompetensi.

Untuk mencapai hal tersebut, peran kepala sekolah dan pengawas juga sangat penting. Kepala sekolah mendorong dan mendukung guru untuk terlibat aktif di komunitas belajar antar sekolah, serta memberikan dukungan lainnya yang dapat mengoptimalkan komunitas belajar guru antarsekolah. Bagi pengawas, perlu mendampingi dan mendorong agar kegiatan belajar dan berbagi di dalam komunitas belajar antar sekolah bagi guru rutin dilakukan. Dengan begitu, peningkatan kompetensi yang berujung dampaknya pada murid dapat tercapai.

“Komunitas belajar adalah adalah sekelompok guru dan tenaga kependidikan yang belajar bersama, dan berkolaborasi secara terjadwal dan berkelanjutan dengan tujuan yang jelas serta terukur untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga berdampak pada hasil belajar murid”.

Tujuan Komunitas Belajar bagi Guru antar Sekolah.
Tujuan komunitas belajar guru antarsekolah adalah sebagai wadah untuk merealisasikan terjadinya kolaborasi guru antarsekolah untuk dapat belajar bersama, meningkatkan kompetensi, merencanakan pembelajaran bersama, berbagi praktik baik yang inovatif dan kreatif, serta memecahkan masalah pembelajaran dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar murid.

Komunitas Belajar yang Berpusat Pada Murid.
Komunitas belajar menempatkan fokusnya pada pembelajaran murid, membudayakan kolaborasi dan tanggung jawab kolektif, serta berorientasi pada peningkatan hasil belajar murid. Ketiga fokus ini merupakan Tiga Ide Besar (Three Big Ideas) dalam menjalankan komunitas belajar. (DuFour, 2020).


Ide Besar Pertama, Fokus pada Pembelajaran

Tujuan utama dari penyelenggaraan pendidikan adalah memastikan setiap murid terlibat dalam proses pembelajaran yang berkualitas. Bukan hanya sekadar belajar, tetapi bagaimana murid dapat belajar sampai tingkat capaian tertinggi.

Oleh karena itu, untuk memastikan murid memperoleh pembelajaran yang berkualitas, diskusi pada komunitas belajar guru perlu mampu menjawab 4 pertanyaan kritis berikut:

  1. Apa yang kita harapkan untuk murid pelajari/capai?
  2. agaimana kita tahu bahwa setiap murid telah belajar/mencapai hal tersebut?
  3. Bagaimana respon kita jika ada murid yang tidak belajar/tidak mencapai capaian yang ditentukan?
  4. Bagaimana strategi kita untuk memperkaya murid yang sudah mahir/melampaui capaian yang ditentukan?

Keempat pertanyaan kunci ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta permasalahan yang dihadapi. Tujuan dari 4 pertanyaan kunci ini adalah untuk membantu memandu diskusi agar pembicaraannya fokus pada murid.

Ide Besar Kedua, Membudayakan Kolaborasi dan Tanggung Jawab Kolektif.

Kolaborasi diciptakan untuk menghadirkan suasana belajar bersama, yang di dalamnya ada rasa saling tergantung satu sama lain, serta kesadaran bahwa kualitas dan keberhasilan pembelajaran merupakan tanggung jawab bersama.

Para guru dalam komunitas belajar menyepakati komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan memiliki tanggung jawab bersama pada peningkatan hasil belajar di satuan pendidikan. Bukan hanya satuan pendidikannya sendiri tapi juga mengimbaskannya ke satuan pendidikan di sekitarnya.

Ide Besar Ketiga, Berorientasi pada Peningkatan Hasil Belajar Murid.

Langkah strategis/intervensi yang dirancang di komunitas belajar guru antarsekolah harus selalu berorientasi pada peningkatan hasil belajar murid.

Peningkatan hasil belajar murid bisa dilihat dengan membandingkan bukti berupa hasil asesmen murid sebelum dan setelah dilakukan intervensi dalam sebuah siklus inkuiri sebagai berikut:


Siklus inkuiri menunjukan bahwa kegiatan belajar di komunitas belajar dirancang sebagai proses yang utuh dan berkelanjutan, dimulai dari refleksi awal sampai kembali lagi ke refleksi awal.

Pada tahap refleksi awal, para guru dalam komunitas belajar berdiskusi mengenai peningkatan hasil belajar murid yang akan dilakukan bersumber dari beragam data yang tersedia.

Pada tahap perencanaan, para guru dalam komunitas belajar mengembangkan dan menyepakati rencana strategis/intervensi yang akan dilakukan untuk peningkatan hasil belajar murid. Pada tahap ini diskusi bisa dipandu dengan menggunakan empat pertanyaan kritis.

Pada tahap implementasi, para guru mempraktekkan langkah strategis/intervensi yang telah dirancang dan disepakati di satuan pendidikan masing-masing. Pada tahap ini dimungkinkan juga untuk melakukan saling mengobservasi antarsatuan pendidikan.

Pada tahap evaluasi, para guru melakukan refleksi bersama tentang apa yang sudah berjalan efektif dan apa yang masih kurang efektif untuk perbaikan di tahap selanjutnya.

Daftar Topik Bahasan Komunitas Belajar Guru antarsekolah
Ada banyak ragam topik yang dapat dibahas di komunitas belajar guru antarsekolah, diantaranya sebagai berikut:
  1. Peningkatan kompetensi murid;
  2. Topik pada mata pelajaran yang paling menantang untuk diajarkan guru
  3. Pemahaman tentang pembelajaran berpusat pada murid, manfaat, dan cara penerapannya;
  4. Metode pembelajaran yang berpusat pada murid, seperti pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran kooperatif;
  5. Penilaian yang berpusat pada murid, seperti penilaian autentik, penilaian diri, dan penilaian teman sebaya;
  6. Pembelajaran yang adaptif, bagaimana penerapan yang adaptif, personal untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda beda;
  7. Kreativitas dan inovasi pembelajaran yang dapat mendorong motivasi dan hasil belajar murid;
  8. Pembelajaran bermakna dan relevan;
  9. Pembelajaran yang aktif dan partisipatif;
  10. Pembelajaran berbasis literasi dan numerasi;
  11. Pembelajaran berbasis teknologi;
  12. Kurikulum, contohnya perencanaan pembelajaran (CP, TP & ATP dan Modul Ajar), asesmen, Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, penyelesaian aksi nyata, dan lainnya;
  13. Topik-topik lainnya yang berpusat pada peningkatan hasil pembelajaran murid.

Semoga Bermanfaat.

Cara Mendeskripsikan Capaian Raport Kurikulum Merdeka

Pelaporan hasil penilaian atau asesmen dituangkan dalam bentuk laporan kemajuan belajar, yang  berupa laporan hasil belajar, yang disusun be...