Tampilkan postingan dengan label Kepala Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kepala Sekolah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 September 2024

Membangun Branding Sekolah


Branding Sekolah adalah proses membangun identitas unik dan citra positif sebuah sekolah di benak publik. Ini seperti memberikan kepribadian pada sekolah, sehingga mudah dikenali dan diingat oleh siswa, orang tua, calon siswa, dan masyarakat luas.

Mengapa Branding Sekolah Penting?
  • Membedakan Sekolah: Di tengah banyaknya pilihan sekolah, branding yang kuat akan membuat sekolah Anda terlihat berbeda dan menarik.
  • Membangun Reputasi: Branding yang baik akan membangun reputasi positif sekolah, sehingga orang tua lebih percaya untuk menyekolahkan anak-anaknya di sana.
  • Menarik Siswa Baru: Branding yang efektif akan menarik minat siswa baru untuk bergabung dengan sekolah Anda.
  • Meningkatkan Loyalitas: Branding yang kuat akan meningkatkan loyalitas siswa, orang tua, dan alumni terhadap sekolah.
  • Mendukung Pengembangan Sekolah: Branding yang baik akan membantu sekolah dalam mencapai tujuan jangka panjangnya.
Unsur-unsur Utama Branding Sekolah:
  • Nama Sekolah: Nama yang mudah diingat dan mencerminkan visi sekolah.
  • Logo Sekolah: Desain logo yang unik dan menarik akan menjadi simbol identitas sekolah.
  • Warna Sekolah: Pilihan warna yang konsisten akan menciptakan kesan yang kuat dan mudah diingat.
  • Slogan Sekolah: Kalimat singkat yang menginspirasi dan menggambarkan nilai-nilai sekolah.
  • Visi dan Misi: Pernyataan jelas tentang tujuan dan arah sekolah.
  • Nilai-nilai Inti: Prinsip-prinsip yang menjadi dasar dalam menjalankan kegiatan sekolah.
  • Identitas Visual: Keseluruhan tampilan visual sekolah, termasuk desain website, materi promosi, seragam, dll.
Contoh Penerapan Branding Sekolah:
  • Sekolah A: Menekankan pada kreativitas dan inovasi, dengan logo yang modern dan warna-warna cerah.
  • Sekolah B: Fokus pada nilai-nilai agama, dengan logo yang berbau religius dan warna-warna yang kalem.
  • Sekolah C: Menawarkan program olahraga yang lengkap, dengan logo yang sporty dan warna-warna yang energik.
Bagaimana Membangun Branding Sekolah?
  • Identifikasi Kekuatan: Temukan keunikan dan kelebihan sekolah Anda.
  • Buat Storytelling: Ceritakan kisah sekolah Anda yang inspiratif.
  • Gunakan Media Sosial: Promosikan sekolah melalui berbagai platform media sosial.
  • Buat Website yang Informatif: Website sekolah harus mudah diakses dan memberikan informasi yang lengkap.
  • Libatkan Komunitas: Bangun hubungan baik dengan masyarakat sekitar.
  • Evaluasi dan Perbaiki: Lakukan evaluasi secara berkala dan terus tingkatkan branding sekolah.
Kesimpulan
Branding sekolah adalah investasi jangka panjang yang sangat penting. Dengan branding yang tepat, sekolah Anda akan semakin dikenal, dihargai, dan menjadi pilihan utama bagi calon siswa dan orang tua.

Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:

Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 

Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 

Terima Kasih

Selasa, 24 September 2024

Model Kompetensi Guru


Seiring perkebangan zaman (kodrat zaman) tuntutan kompetensi guru mengalamai pergeseran sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman. Hal ini dijelaskan dalam Peraturan Direktur Jendral Guru dan tenaga Kependidikan Nomor 6565/B/GT/2020 tentang Model Kompetensi dalam Pengembangan Profesi Guru (download)

Kategori Model kompetensi Guru meliputi sebagai berikut.
1. Pengetahuan profesional dengan kompetensi:
  1. menganalisis struktur dan alur pengetahuan untuk pembelajaran;
  2. menjabarkan tahap penguasaan kompetensi murid; dan
  3. menetapkan tujuan belajar sesuai dengan karakteristik murid, kurikulum, dan profil pelajar Pancasila.
2. Praktik pembelajaran profesional dengan kompetensi:
  1. mengembangkan lingkungan kelas yang memfasilitasi murid belajar secara aman dan nyaman;
  2. menyusun desain, melaksanakan, dan merefleksikan pembelajaran yang efektif;
  3. melakukan asesmen, memberi umpan balik, dan menyampaikan laporan belajar; dan
  4. mengikutsertakan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pembelajaran.
3. Pengembangan profesi dengan kompetensi:
  1. menunjukkan kebiasaan refleksi untuk pengembangan diri secara mandiri;
  2. menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan emosi, untuk berperilaku sesuai kode etik guru;
  3. menunjukkan praktik dan kebiasaan bekerja yang berorientasi pada anak;
  4. melakukan pengembangan potensi secara gotong royong untuk menumbuhkan perilaku kerja; dan
  5. berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier.
# Kategori Kompetensi Pengetahuan Profesional
1. Kompetensi Menganalisis struktur dan alur pengetahuan untuk pembelajaran
Indikator Kompetensi:
  1. Menjelaskan konsep, materi, dan struktur dari suatu disiplin ilmu yang relevan
  2. Menganalisis prasyarat untuk menguasai konsep dari suatu disiplin ilmu
  3. Menjelaskan keterkaitan suatu konsep dengan konsep yang lain
  4. Mengevaluasi konsep, struktur, dan materi pada kurikulum
2. Kompetensi Menjabarkan tahap penguasaan kompetensi murid
Indikator Kompetensi:
  1. Menjelaskan proses belajar yang dialami murid
  2. Menjelaskan kebutuhan murid termasuk murid berkebutuhan khusus
  3. Mengidentifikasi tahap perkembangan dan latar belakang murid
  4. Menjabarkan tahap penguasaan kompetensi dari disiplin tertentu
3. Kompetensi Menetapkan tujuan belajar sesuai karakteristik murid, kurikulum, dan profil pelajar Pancasila
Indikator Kompetensi:
  1. Menganalisis perkembangan murid, kurikulum, dan profil pelajar Pancasila
  2. Menetapkan urutan hasil belajar sesuai dengan tahap penguasaan kompetensi murid
  3. Merumuskan tujuan belajar yang dapat diukur dan menunjukkan capaian murid
  4. Memastikan tujuan belajar yang mencakup keragaman perkembangan murid
# Kategori Kompetensi Praktik Pembelajaran Profesional
1. Kompetensi Mengembangkan lingkungan kelas yang memfasilitasi murid belajar secara aman dan nyaman
Indikator Kompetensi:
  1. Melakukan dan mendorong praktik komunikasi positif di lingkungan belajar
  2. Mengikutsertakan murid dalam perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi belajar
  3. Mengembangkan kesepakatan dan kebiasaan positif di lingkungan belajar
  4. Membangun kepercayaan diri dan menanamkan harapan yang tinggi pada murid
2. Kompetensi Menyusun desain, melaksanakan, dan merefleksikan pembelajaran yang efektif
Indikator Kompetensi:
  1. Menyusun desain pembelajaran sesuai dengan tujuan, bermakna, dan mengikutsertakan murid
  2. Memastikan desain pembelajaran yang disusun relevan dengan tantangan di sekitar sekolah
  3. Melaksanakan pembelajaran yang dinamis dan menumbuhkan kegemaran belajar murid
  4. Melaksanakan pembelajaran yang menumbuhkan kemampuan bernalar kritis murid
  5. Merefleksikan desain dan praktik pembelajaran serta menindaklanjutinya
3. Melakukan asesmen, memberi umpan balik, dan menyampaikan laporan belajar
Indikator Kompetensi:
  1. Merancang asesmen sesuai dengan tujuan dan bermakna bagi murid
  2. Melakukan asesmen secara obyektif dan relevan bagi murid
  3. Memberi umpan balik yang spesifik dan bermakna bagi murid
  4. Menyusun laporan belajar yang relevan dan mudah dipahami
  5. Menyampaikan laporan belajar melalui komunikasi yang dialogis
  6. Menganalisis hasil asesmen sebagai bahan untuk perbaikan pembelajaran
4. Kompetesni Mengikutsertakan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pembelajaran
Indikator Kompetensi:
  1. Membangun komunikasi dan interaksi positif dengan orang tua/wali murid dan masyarakat
  2. Merancang dan melaksanakan pembelajaran yang mengikutsertakan orang tua/wali murid dan masyarakat
  3. Menyediakan peran yang relevan dan bermakna bagi orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pembelajaran
# Kategori Kompetensi Pengembangan Profesi
1. Kompetensi Menunjukkan kebiasaan refleksi untuk pengembangan diri secara mandiri
Indikator Kompetensi:
  1. Melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran dan pendidikan
  2. Menemukan aspek kekuatan dan kelemahan sebagai guru
  3. Menetapkan tujuan dan rencana pengembangan diri
  4. Menentukan cara dan beradaptasi dalam melakukan pengembangan diri
2. Kompetensi Menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan emosi untuk berperilaku sesuai dengan kode etik guru
Indikator Kompetensi:
  1. Mengaktualisasikan makna, tujuan, dan pandangan hidup guru berdasarkan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  2. Mengelola emosi agar berdampak positif terhadap fungsi dan perannya sebagai guru
  3. Menggunakan prinsip moral dalam pengambilan keputusan
  4. Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perilaku kerja yang mengacu pada kode etik guru
  5. Menerapkan strategi untuk menghindari pelanggaran kode etik guru dan konflik kepentingan
3. Kompetensi Menunjukkan praktik dan kebiasaan bekerja yang berorientasi pada anak
Indikator Kompetensi:
  1. Melakukan interaksi aktif dengan menjaga dan menghormati hak anak
  2. Menunjukkan kepedulian terhadap keselamatan dan keamanan anak, baik sebagai individu maupun kelompok
  3. Melakukan refleksi praktik dan kebiasaan kelompok bekerja yang berorientasi pada anak
4. Kompetensi Melakukan pengembangan potensi secara gotong royong untuk menumbuhkan perilaku kerja
Indikator Kompetensi:
  1. Mengenali dan menghormati perbedaan dalam konteks kebinekaan
  2. Mengakui dan menerima keberagaman kebutuhan pengembangan potensi orang lain
  3. Merencanakan dan melaksanakan pengembangan potensi secara kolaboratif
  4. Melakukan refleksi terhadap aktivitas kolaborasi pengembangan potensi
  5. Menerapkan hasil pengembangan potensi untuk menumbuhkan perilaku kerja
5. Kompetensi Berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier
Indikator Kompetensi:
  1. Mengikuti secara aktif berbagai kegiatan jejaring dan organisasi profesi
  2. Melakukan eksplorasi beragam pengalaman belajar dari kegiatan jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier
  3. Menghasilkan karya dan/atau memberikan layanan yang bermakna dari kegiatan jejaring dan organisasi profesi untuk mengembangkan karier
Sudah saatnya Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah berkolaborasi untuk meningkatan kompetensinya dan kompetensi gurunya.

Semoga Bermanfaat

Merumuskan Visi Misi Sekolah

Kepala sekolah diharapkan mampu merumuskan visi, misi, tujuan sebagai arah  pengembangan program RKJM, RKT/RKAS dan program lainnya. Sehingga mendapatkan hasil yang diinginkan, antara lain: Visi-misi sekolah merupakan rumusan hasil keputusan bersama, berfungsi sebagai penentu arah pengembangan program sekolah yang tersosialisasikan.


A. Visi Sekolah
Visi adalah wawasan yang menjadi sumber arahan bagi sekolah yang digunakan
untuk memandu perumusan misi sekolah. Dengan kata lain visi adalah pandangan jauh ke depan ke mana sekolah akan dibawa. Visi adalah gambaran masa depan yang diinginkan oleh sekolah agar sekolah yang bersangkutan dapat menjamin kelangsungan hidup dan perkembangannya. Gambaran masa depan atau visi tentunya harus didasarkan pada landasan yuridis, yaitu Undang-Undang Pendidikan dan sejumlah Peraturan Pemerintahannya, khususnya tujuan pendidikan nasional sesuai jenjang dan jenis sekolahnya dan sesuai dengan profil sekolah yang bersangkutan. Dengan kata lain, visi sekolah harus tetap berada dalam koridor kebijakan nasional, tetapi sesuai dengan kebutuhan anak dan masyarakat yang dilayani. Tujuan pendidikan nasional sama, tetapi profil sekolah khususnya potensi dan kebutuhan masyarakat yang dilayani sekolah tidak selalu sama. Oleh karena itu, dimungkinkan sekolah memiliki visi yang tidak sama dengan sekolah lain, asalkan tidak keluar dari koridor nasional yaitu tujuan pendidikan nasional.

1. Penyusunan Visi
Visi merupakan keinginan dan pernyataan moral yang menjadi dasar atau rujukan
dalam menentukan arah dan kebijakan pimpinan dalam membawa gerak langkah
organisasi menuju masa depan yang lebih baik, sehingga eksistensi/keberadaan organisasi dapat diakui oleh masyarakat. Visi merupakan gambaran tentang masa depan (future) yang realistik dan ingin diwujudkan dalam kurun waktu tertentu. Ini sejalan dengan yang Visi adalah pernyataan yang diucapkan atau ditulis hari ini, yang merupakan proses manajemen saat ini yang menjangkau masa yang akan datang” (2006:94).

2. Rumusan Visi
Visi yang tepat bagi suatu instansi pemerintah akan menjadi accelerator (pemercepat) kegiatan instansi pemerintah bersangkutan, meliputi perencanaan strategi, perencanaan kinerja tahunan, pengelolaan sumber daya, pengembangan indikator kinerja, pengukuran kinerja, dan evaluasi pengukuran kinerja instansi tersebut. Visi sekolah juga merupakan gambaran tentang kualitas pendidikan di tingkat sekolah yang diinginkan di masa depan.

Sebelum merumuskan visi sekolah perlu sekiranya terlebih dahulu mempelajari visi pendidikan nasional, mempelajari visi pendidikan di tingkat propinsi; mempelajari visi pendidikan daerah; kemudian baru dapat merumuskan visi sekolah yang dapat dicapai dalam jangka waktu tertentu ke depan.

a. Syarat Perumusan Visi
  1. Visi bukanlah fakta, tetapi gambaran pandangan ideal masa depan yang ingin diwujudkan.
  2. Visi dapat memberikan arahan, mendorong anggota organisasi untuk menunjukkan kinerja yang baik.
  3. Dapat menimbulkan inspirasi dan siap menghadapi tantangan
  4. Menjembatani masa kini dan masa yang akan datang.
  5. Gambaran yang realistik dan kredibel dengan masa depan yang menarik.
  6. Sifatnya tidak statis dan tidak untuk selamanya.
b. Prosedur Perumusan, Perumusan Visi Satuan Organisasi dilakukan prosedur dan tahapan sebagai berikut:
  1. Mengkaji makna visi satuan organisasi diatasnya unuk digunakan sebagai acuan;
  2. Menginventarisasi rumusan tugas satuan organisasi yang tercantum dalam struktur dan tata kerja satuan organisasi yang bersangkutan;
  3. Rumusan tugas satuan organisasi tersebut dirangkum dan dirumuskan kembali menjadi konsep rumusan visi satuan organisasi;
  4. Konsep rumusan visi satuan organisasi didiskusikan dengan seluruh anggota organisasi untuk memperoleh masukan, klarifikasi dan saran-saran;
  5. Rumusan Visi Satuan Organisasi dikomunikasikan dengan seluruh stakeholders guna memperoleh penyempurnaan;
  6. Rumusan Visi Satuan Organisasi yang telah menjadi kesepakatan ditetapkan dengan Keputusan Pimpinan Satuan Organisasi, sehingga visi tersebut menjadi milik bersama, mendapat dukungan dan komitmen seluruh anggota organisasi.
c. Kriteria Visi
Rumusan Visi yang baik mempunyai kriteria (ciri-ciri) sebagai berikut :
  1. Rumusannya singkat, padat dan mudah diingat;
  2. Bersifat inspiratif dan menantang untuk mencapainya;
  3. Sesuatu yang ideal yang ingin dicapai dimasa yang akan datang yang membawa eksistensi/keberadaan suatu organisasi;
  4. Menarik bagi seluruh anggota organisasi dan pihak-pihak yang terkait (stakeholders);
  5. Memberikan arah dan fokus strategi yang jelas;
  6. Mampu menjadi perekat dan menyatukan berbagai gagasan strategis yang terdapat dalam suatu organisasi;
  7. Memiliki orientasi terhadap masa depan, sehingga segenap jajaran organisasi ikut berperan dalam pencapaiannya;
  8. Mampu menumbuhkan komitmen seluruh anggota organisasi;
  9. Menjamin kesinambungan kepemimpinan dan kebijakan organisasi serta menjembatani keadaan masa sekarang dan masa yang akan datang;
  10. Memungkinkan untuk perubahan atau penyesuaian dengan perkembangan/perubahan tugas dan fungsi.
d) Teknik Perumusan Visi
Visi Satuan Organisasi dirumuskan dengan cara sebagai berikut: Mereview (meninjau kembali) masalah yang dihadapi, baik internal maupun eksternal dengan pendekatan analisis Strengths, Weakness, Opportunities, dan Threats (SWOT); dengan cara menganalisis konteks tentang kekuatan, kelemahan yang dimiliki oleh sekolah. Serta melihat peluang dan ancaman yang terjadi di sekeliling sekolah.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perumusan Visi adalah sebagai berikut:
  1. Melibatkan seluruh anggota satuan organisasi dan satuan kerja untuk memberikan partisipasi (sharing) secara maksimal sesuai dengan kemampuannya;
  2. Menumbuhkan sikap rasa memiliki (melu handarbeni atau sense of belongingness) mengenai visi yang akan dirumuskan bersam;.
  3. Mengakomodasi cita-cita dan keinginan seluruh anggota satuan organisasi atau satuan kerja. Dengan pendekatan seperti ini (bottom up) akan menstimulasi segenap komponen yang ada dalam satuan organisasi untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi pencapaian visi yang akan disepakat;
  4. Rumusan Visi yang berasal dari pimpinan (top down) perlu disosialisasikan kepada seluruh anggota organisasi dengan pendekatan yang demokratis dan terbuka untuk penyempurnaan dan memperoleh masukan atau partisipasi dari bawah.
3. Contoh Visi Sekolah
a) Sekolah yang terletak di kota besar, peserta didiknya berasal dari keluarga mampu, berpendidikan tinggi, yang memiliki harapan anaknya menjadi orang hebat, lulusannya melanjutkan ke sekolah favorit yang lebih tinggi, dapat merumuskan visinya: “Terwujudnya Peserta Didik yang Unggul Berprestasi, Berakhlaqulkarimah, Terampil dan Mandiri”

b) Sekolah yang terletak di daerah pedesaan yang umumnya tidak maju dari sekolah perkotaan dan banyak peserta didiknya tidak melanjutkan ke sekolah favorit atau berprestasi, dapat merumuskan visinya: “Terwujudnya Peserta Didik yang Cerdas, Terampil, Dan Mandiri Berdasarkan Iman Taqwa”

c) Sekolah yang terletak di pinggiran kota (urban) yang umumnya tingkat kemajuannya menengah dibanding sekolah di perkotaan atau pedesaan, masyarakatnya pekerja, perilaku moral rendah, dan banyak peserta didiknya tidak melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, dapat merumuskan visinya: “Terwujudnya Peserta Didik yang Berkarakter, Cerdas, Mandiri, Dan Terampil Berdasarkan Imtaq”

Ketiga contoh visi tersebut, sama-sama benar sepanjang dalam koridor tujuan pendidikan nasional, sesuai dengan tujuan dari setiap jenjang sesuai dengan peraturan pemerintah. Visi yang pada umumnya dirumuskan dalam kalimat yang filosofi seperti contoh di atas seringkali memiliki aneka tafsir, setiap orang dapat menafsirkan secara berbeda-beda sehingga dapat menimbulkan perselisihan dalam implementasinya. Bahkan jika terjadi penggantian pimpinan sekolah maka kepala sekolah yang baru tidak jarang memberi tafsir yang berbeda kepada kepala sekolah sebelumnya. Oleh karena itu agar tidak memberikan tafsir yang berbeda, visi itu sebaiknya diberikan penjelasan berupa indikator-indikator atau penanda-penanda yang dimaksudkannya. Perhatikan contoh penjelasan indikator-indikator visi Unggul dalam prestasi berdasarkan iman dan taqwa dapat dijabarkan indikatornya sebagai berikut:

4. Visi Indikator

Unggul dalam prestasi? 

Unggul dalam memperoleh UASBN atau UN, Unggul dalam persaingan melanjutkan ke jenjang pendidikan di atasnya, Unggul dalam karya ilmiah remaja

Unggul dalam lomba kreativitas ?

Unggul dalam lomba kesenian, Unggul dalam lomba olah raga, Unggul dalam keterampilan (mengoprasikan Komputer dan internet, Public Speaker)

Beriman dan bertaqwa ? 

Unggul dalam disiplin, Unggul dalam aktvitas keagamaan, Unggul dalam kepedulian sosial

B. Misi Sekolah

Misi adalah sesuatu yang harus dilaksanakan oleh organisasi agar tujuan organisasi dapat terlaksana dan berhasil dengan baik. Suatu pernyataan misi setidaknya harus mampu menjawab tiga pertanyaan, berikut ini: Apa yang akan kita lakukan? Untuk siapa kita melakukannya?

Bagaimana kita melaksanakannya?

Misi sekolah juga merupakan tindakan dalam rangka merealisasikan visi, yang telah dirumuskan. Sebelum merumuskan misi sekolah terlebih dahulu melakukan kegiatan-kegiatan;

mempelajari visi sekolah; dan merumuskan tindakan untuk mencapai/ merealisasikan visi sekolah.

1. Perumusan Misi

Misi organisasi adalah pangkal dari perencanaan strategi suatu organisasi. Misi organisasi akan menggiring penentuan tujuan dan sasaran yang akan dicapai oleh organisasi, untuk itu perlu dirumuskan secara cermat dan memungkinkan untuk dicapai serta dapat diukur pencapaiannya. Perumusan misi organisasi merupakan hal yang mendasar meskipun sulit, namun harus diupayakan. Perumusan dan penetapan misi organisasi harus secara eksplisit menyatakan apa yang akan dicapai atau fungsi apa yang dilaksanakan oleh organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.

Penetapan misi sebagai pernyataan cita-cita organisasi dan seluruh komponen yang terkait yang akan menjadi landasan kerja yang harus diikuti oleh seluruh komponen organisasi guna mewujudkan tujuan organisasi. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan misi antara lain:

Berdasarkan pengertian, teknik perumusan, prosedur perumusan dan kriteria misi sebagaimana diuraikan di atas, terdapat hal-hal yang perlu menjadi perhatian dalam perumusan misi yaitu :
  1. Pernyataan misi harus menunjukkan secara jelas mengenai apa yang hendak dicapai oleh sekolah;
  2. Rumusan selalu kalimat “tindakan” bukan kalimat yang menunjukkan “keadaan” sebagaimana pada rumusan visi; Satu indikator visi dapat dirumuskan lebih dari satu rumusan misi.
  3. Antara indikator visi dengan rumusan misi harus ada keterkaitan atau terdapat benang merahnya secara jelas;
  4. Misi menggambarkan tentang produk atau pelayanan yang akan diberikan pada masyarakat (siswa);
  5. Kualitas produk atau layanan yang ditawarkan harus memiliki daya saing yang tinggi, namun disesuaikan dengan kondisi organisasi.
2. Kriteria Misi
Rumusan misi yang baik mempunyai kriteria (ciri-ciri) sebagai berikut:
  • Rumusannya sejalan dengan visi satuan organisasi/satuan kerja;
  • Rumusannya jelas dengan bahasa yang lugas;
  • Rumusannya menggambarkan pekerjaan atau fungsi yang harus dilaksanakan;
  • Dapat dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu;
  • Memungkinkan untuk perubahan/penyesuaian dengan perubahan visi.
3. Contoh Misi Sekolah
Misi Indikator (Misi)
  1. Mengembangkan sumber daya secara optimal dalam rangka mempersiapkan siswa di era global
  2. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif sehingga setiap peserta didik berkembang secara optimal, sesuai dengan potensi yang dimiliki.
  3. Menumbuhkan semangat keunggulan secara intensif kepada seluruh warga sekolah.
  4. Mendorong dan membantu setiap peserta didik untuk mengenali potensi dirinya sehingga apat dapat dikembangkan secara optimal.
  5. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut dan budaya bangsa sehingga menjadi sumber kearifan dalam bertindak.
  6. Menerapkan manajemen partisipatif dengan melibatkan seluruh warga sekolah warga sekolah dan kelompok kepentingan yang terkait dengan sekolah.
III. Tujuan Sekolah/Madrasah
Tujuan merupakan penjabaran dari pernyataan misi, tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Penetapan tujuan pada umumnya didasarkan pada faktor-faktor kunci keberhasilan yang dilakukan setelah penetapan visi dan misi. Tujuan tidak harus dinyatakan dalam bentuk kuantitatif, akan tetapi harus dapat menunjukkan kondisi yang ingin dicapai dimasa mendatang (Akdon, 2006:143). Tujuan akan mengarahkan perumusan sasaran, kebijaksanaan, program dan kegiatan dalam rangka merealisasikan misi, oleh karena itu tujuan harus dapat menyediakan dasar yang kuat untuk menetapkan indikator. Pencapaian tujuan dapat dijadikan indikator untuk menilai kinerja sebuah organisasi. Sementara itu, tujuan sekolah lebih berfokus pada penjabaran dari visi, misi ke dalam operasional yang dapat dicapai dalam kurun waktu yang pendek misalnya dalam satu tahun ke depan.

Kepala sekolah menentukan strategi pencapaian tujuan sekolah, dilengkapi dengan indikator pencapaian yang terukur. Hasil yang diinginkan, antara lain: Dokumen program yang memuat strategi pencapaian tujuan pada tiap kegiatan pemenuhan stadar yang dijabarkan dalam indikator pencapaian yang spesifik, terukur, realistik, dan berbatas waktu.

1. Kriteria Tujuan
Beberapa kriteria penyusunan tujuan antara lain: 
  1. Mendeskripsikan hal-hal yang perlu diwujudkan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan. Tujuan harus serasi dan mengklarifikasikan misi, visi dan nilai-nilai organisasi. 
  2. Pencapaian tujuan akan dapat memenuhi atau berkontribusi memenuhi misi, program dan sub program organisasi. 
  3. Esensinya tidak berubah, kecuali terjadi pergeseran lingkungan, atau dalam hal isu strategik hasil yang diinginkan. 
  4. Biasanya secara relatif berjangka panjang 
  5. Menggambarkan hasil program 
  6. Menggambarkan arahan yang jelas dari organisasi. 
  7. Menantang, namun realistik dan dapat dicapai.
2. Perumusan Tujuan Sekolah
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan sekolah:
  1. Tujuan sekolah harus memberikan ukuran yang spesifik dan akuntabel
  2. Tujuan sekolah merupakan penjabaran dari misi, oleh karena itu harus selaras dengan visi dan misi
  3. Tujuan sekolah menyatakan kegiatan khusus apa yang akan diselesaikan dan kapan diselesaikannya
3. Contoh Tujuan Sekolah
Rumusan Tujuan Indikator
  1. Menghasilkan lulusan yang kompetitif dan berbudaya? Pada tahun 2016 rata -rata UASBN mencapai nilai minimal 7,00.
  2. Pada tahun 2016 proporsi lulusan yang melanjutkan ke sekolah unggul minimal 40%
  3. Pada tahun 2016 memiliki tim kesenian yang tampil pada acara setingkat propinsi.
4. Target Sekolah
Sedangkan target sekolah adalah penjabaran tujuan yang ingin dicapai ke dalam target seperti peningkatan mutu akademik (prestasi belajar) dan non akademik (kesenian, pramuka, olahraga, sikap) yang harus dicapai dalam setiap tahun ajaran, semester, dan bulanan. Cara-cara untuk mencapai target sekolah antara lain sebagai berikut:
  1. membangkitkan dedikasi guru dengan cara meluruskan niat pengabdian sebagai sumber daya manusia yang melaksanakan tugasnya secara professional;
  2. membuat kesepakatan tugas (kewajiban) imbalan (hak) ganjaran jika berprestasi dan sanksi jika mengingkari kewajiban berdasarkan aturan yang disepakati;
  3. menanamkan rasa memiliki pada seluruh warga sekolah dan masyarakat terhadap sekolah;
  4. melakukan rapat berkala untuk mengetahui kemajuan, mencari solusi bersama dalam menghadapi dan memecahkan masalah; dan
  5. menciptakan iklim kerja yang kondusif sehingga tercipta suasana kerja yang menyenangkan dan saling mendukung
IV. Rencana Evaluasi
Evaluasi ditujukan untuk mengetahui sejauhmana ketercapaian pelaksanaan penyelenggaraan sekolah atau sejauhmana keberhasilan yang telah dicapai dalam kurun waktu tertentu. Tujuan evaluasi utamanya adalah mengetahui tingkat keterlaksanaan program, mengetahui keberhasilan program, mendapatkan bahan/masukan dalam perencanaan tahun selanjutnya, memberikan penilaian (judgement) terhadap sekolah. 

Oleh karena itu kepala sekolah diharapkan juga melengkapi program dengan rencana evaluasi keterlaksanaan dan pencapaian program-program kegiatan sekolah tersebut, dengan masing-masing kegiatan dibuatkan instrumen tersendiri dengan indikator-indikator yang tepat sesuai sasaran. Dengan demikian hasil yang diinginkan, antara lain: Dokumen rencana evaluasi dilengkapi dengan instrumen yang mengukur keterlaksanaan dan pencapaian program seluruh program-program kegiatan-kegiatan sekolah/madrasah.

Sumber: Modul Materi Penguatan Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah LPPKSPS

Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA)


 Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University. ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010).

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) memberikan nilai lebih pada kapasitas, kemampuan, pengetahuan, jaringan, dan potensi yang dimiliki oleh komunitas. Dengan demikian pendekatan ini melihat komunitas sebagai pencipta dari kesehatan dan kesejahteraan, bukan sebagai sekedar penerima bantuan. Pendekatan PKBA menekankan dan mendorong komunitas untuk dapat memberdayakan aset yang dimilikinya serta membangun keterkaitan dari aset-aset tersebut agar menjadi lebih berdaya guna. Kedua peran yang penting ini menurut Kretzman (2010) adalah jalan untuk menciptakan warga yang produktif.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset menekankan kepada kemandirian dari suatu komunitas untuk dapat menyelesaikan tantangan yang dihadapinya dengan bermodalkan kekuatan dan potensi yang ada di dalam diri mereka sendiri, dengan demikian hasil yang diharapkan akan lebih berkelanjutan.

Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset berfokus pada potensi aset/sumber daya yang dimiliki oleh sebuah komunitas. Selama ini komunitas sibuk pada strategi mencari pemecahan pada masalah yang sedang dihadapi. Pendekatan PKBA merupakan pendekatan yang digerakkan oleh seluruh pihak yang ada di dalam sebuah komunitas atau disebut sebagai community-driven development. Di dalam buku „Participant Manual of Mobilizing Assets for Community-driven Development‟ (Cunningham, 2012) menuliskan perbedaannya dengan pendekatan yang dibantu oleh pihak luar. Penjelasan yang ada sebetulnya ditujukan untuk pengembangan masyarakat, namun tetap bisa kita implementasikan pada lingkungan sekolah karena sebetulnya adalah miniatur sebuah tatanan masyarakat di suatu daerah.

Perubahan masyarakat yang signifikan karena warga lokal dalam masyarakat tersebut yang mengupayakan perubahan. Apabila kita aplikasikan ke lingkungan sekolah dan seluruh warga sekolah berupaya melakukan perubahan maka perubahan tersebut pasti akan terjadi.

1. Warga masyarakat akan bertanggung jawab pada yang sudah mereka mulai. Dengan demikian setiap warga sekolah akan bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai.

2. Membangun dan membina hubungan merupakan inti dari membangun masyarakat inklusif yang sehat. Membangun dan membina hubungan antar warga sekolah, seperti hubungan guru-guru, guru – kepala sekolah, guru – murid – guru, guru – staf sekolah – guru, staf sekolah – murid – staf sekolah, ataupun kepala sekolah – murid – kepala sekolah menjadi sangat penting untuk membangun sekolah yang sehat dan inklusif.

3. Masyarakat tidak pernah dibangun dengan berfokus terus pada kekurangan, kebutuhan dan masalah. Masyarakat merespons secara kreatif ketika fokus pembangunan pada sumber daya- sumber yang tersedia, kapasitas yang dimiliki, kekuatan dan aspirasi yang ada. Sekolah harus dibangun dengan melihat pada kekuatan, potensi, dan tantangan, kita harus bisa fokus pada pembangunan sumber daya yang tersedia, kapasitas yang kita miliki, serta kekuatan dan aspirasi yang sudah ada.

4. Kekuatan sekolah berbanding lurus dengan tingkat keberagaman keinginan unsur sekolah yang ada, dan pada tingkat kemampuan mereka untuk menyumbangkan kemampuan yang ada pada mereka dan aset yang ada untuk sekolah yang lebih baik.

5. Dalam setiap unsur sekolah, pasti ada sesuatu yang berhasil. Dari pada menanyakan “ada masalah apa?” dan “bagaimana memperbaikinya?”, lebih baik bertanya “apa yang telah berhasil dilakukan?” dan “bagaimana mengupayakan lebih banyak hasil lagi?” Cara bertanya ini mendorong energi dan kreativitas.

6. Menciptakan perubahan yang positif mulai dari sebuah perbincangan sederhana. Hal ini merupakan cara bagaimana manusia selalu berpikir bersama dan mencetuskan/memulai suatu tindakan.

7. Suasana yang menyenangkan harus merupakan salah satu prioritas tinggi dalam setiap upaya membangun sekolah.

8. Faktor utama dalam perubahan yang berkelanjutan adalah kepemimpinan lokal dan pengembangan dan pembaharuan kepemimpinan itu secara terus menerus.

9. Titik awal perubahan selalu pada perubahan pola pikir (mindset) dan sikap yang positif.

2. Ekosistem Sekolah

Ekosistem dalam istilah biologi lingkungan yang berarti interaksi antara komponen biotik dan abiotik (LIPI, 2013). Ekosistem di sini dibatasi sebagai interaksi antara manusia terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Kita membatasi makna manusia di sini sebagai peserta didik di sekolah. Sekolah adalah sebuah komunitas manusia yang berkumpul bersama untuk saling belajar. Belajar adalah proses menguasai pengetahuan dan keterampilan baru. Relasi di antara peserta didik, sekolah dan belajar diikat dalam sebuah ekosistem. Maka keseimbangan pendidikan di sekolah mengakui adanya saling ketergantungan yang sangat penting diantara semua aspek pengembangan dalam setiap diri peserta didik dan lingkungan sekolah secara keseluruhan (Ken Robinson, 2015). Jadi kita bisa menyimpulkan bahwa kualitas pembelajaran di sekolah ditentukan oleh interrelasi antara kepala sekolah, guru dan siswa.

Ekosistem sekolah itu terbangun dari tiga aspek antara lain ekologis, sosial dan spiritual. (C. Otto Scharmer, 2018). Kondisi ekologis sekolah mencakup antara lain sumber daya alam, sumber daya manusia, lokasi geografis, historis, dan daya dukung pemerintah. Kondisi sosial mencakup antara lain peserta didik, pendidik, sarana dan prasarana, pembiayaan, dan daya dukung komite sekolah. Sedangkan kondisi spiritual mencakup antara lain agama dan budaya.

3. Aset - aset dalam sebuah Komunitas

Dalam mengatasi tantangan pada pendekatan tradisional yang digunakan untuk mengatasi permasalahan perkotaan, di mana penyedia jasa dan lembaga donor lebih menekankan pada kebutuhan dan kekurangan yang terdapat pada komunitas, Kretzmann dan McKnight menunjukkan bahwa aset yang dimiliki oleh komunitas adalah kunci dari usaha perbaikan kehidupan pada komunitas perkotaan dan pedesaan.

Menurut Green dan Haines (2002) dalam Asset building and community development, ada 7 aset utama atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama, yaitu:

1. Modal Manusia

  • Sumber daya manusia yang berkualitas, investasi pada sumber daya manusia menjadi sangat penting yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan harga diri seseorang.
  • Pemetaan modal atau aset individu merupakan kegiatan menginventaris pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan yang dimiliki setiap warganya dalam sebuah komunitas, atau dengan kata lain, inventarisasi perorangan dapat dikelompokkan berdasarkan sesuatu yang berhubungan dengan hati, tangan, dan kepala.
  • Pendekatan lain mengelompokkan aset atau modal ini dengan melihat kecakapan seseorang yang berhubungan dengan kemasyarakatan, contohnya kecakapan memimpin sekelompok orang, dan kecakapan seseorang berkomunikasi dengan berbagai kelompok. Kecakapan yang berhubungan dengan kewirausahaan, contohnya kecakapan dalam mengelola usaha, pemasaran, yang negosiasi. Kecakapan yang berhubungan dengan seni dan budaya, contohnya kerajinan tangan, menari, bermain teater, dan bermain musik.

2. Modal Sosial

  • Norma dan aturan yang mengikat warga masyarakat yang ada di dalamnya dan mengatur pola perilaku warga, juga unsur kepercayaan (trust) dan jaringan (networking) antara unsur yang ada di dalam komunitas/masyarakat.
  • Investasi yang berdampak pada bagaimana manusia, kelompok, dan organisasi dalam komunitas berdampingan, contohnya kepemimpinan, bekerjasama, saling percaya, dan punya rasa memiliki masa depan yang sama. Contoh-contoh yang termasuk dalam modal sosial antara lain adalah asosiasi.

Asosiasi adalah suatu kelompok yang ada di dalam komunitas masyarakat yang terdiri atas dua orang atau lebih yang bekerja bersama dengan suatu tujuan yang sama dan saling berbagi untuk suatu tujuan yang sama. Asosiasi terdiri atas kegiatan yang bersifat formal maupun nonformal. Beberapa contoh tipe asosiasi adalah berdasarkan keyakinan, kesamaan profesi, kesamaan hobi, dan sebagainya. Terdapat beberapa macam bentuk modal sosial, yaitu fisik (lembaga), misalnya asosiasi dan institusi. Institusi adalah suatu lembaga yang mempunyai struktur organisasi yang jelas dan biasanya sebagai salah satu faktor utama dalam proses pengembangan komunitas masyarakat.

3. Modal Fisik

Terdiri atas dua kelompok utama, yaitu:

  • Bangunan yang bisa digunakan untuk kelas atau lokasi melakukan proses pembelajaran, laboratorium, pertemuan, ataupun pelatihan.
  • Infrastruktur atau sarana prasarana, mulai dari saluran pembuangan, sistem air, mesin, jalan, jalur komunikasi, sarana pendukung pembelajaran, alat transportasi, dan lain-lain.

4. Modal Lingkungan/Alam

  • Bisa berupa potensi yang belum diolah dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dalam upaya pelestarian alam dan juga kenyamanan hidup. Modal lingkungan terdiri dari bumi, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.
  • Tanah untuk berkebun, danau atau empang untuk berternak, semua hasil dari pohon seperti kayu, buah, bambu, atau material bangunan yang bisa digunakan kembali untuk menenun, dan sebagainya.

5. Modal Finansial

  • Dukungan keuangan yang dimiliki oleh sebuah komunitas yang dapat digunakan untuk membiayai proses pembangunan dan kegiatan sebuah komunitas.
  • Modal finansial termasuk tabungan, hutan, investasi, pengurangan dan pendapatan pajak, hibah, gaji, serta sumber pendapatan internal dan eksternal.
  • Modal finansial juga termasuk pengetahuan tentang bagaimana menanam dan menjual sayur di pasar, bagaimana menghasilkan uang dan membuat produk- produk yang bisa dijual, bagaimana menjalankan usaha kecil, bagaimana memperbaiki cara penjualan menjadi lebih baik, dan juga bagaimana melakukan pembukuan.

6. Modal Politik

  • Modal politik adalah ukuran keterlibatan sosial. Semua lapisan atau kelompok memiliki peluang atau kesempatan yang sama dalam kepemimpinan, serta memiliki suara dalam masalah umum yang terjadi dalam komunitas.
  • Lembaga pemerintah atau perwakilannya yang memiliki hubungan dengan komunitas, seperti komunitas sekolah, komite pelayan kesehatan, pelayanan listrik atau air.

7. Modal Agama dan Budaya

  • Upaya pemberian bantuan empati dan perhatian, kasih sayang, dan unsur dari kebijakan praktis (dorongan utama pada kegiatan pelayanan). Termasuk juga kepercayaan, nilai, sejarah, makanan, warisan budaya, seni, dan lain-lain.
  • Kebudayaan yang unik di setiap daerah masing-masing merupakan serangkaian ide, gagasan, norma, perlakuan, serta benda yang merupakan hasil karya manusia yang hidup berkembang dalam sebuah ruang geografis.
  • Agama merupakan suatu sistem berperilaku yang mendasar, dan berfungsi untuk mengintegrasikan perilaku individu di dalam sebuah komunitas, baik perilaku lahiriah maupun simbolik. Agama menuntut terbentuknya moral sosial yang bukan hanya kepercayaan, tetapi juga perilaku atau amalan.
  • Identifikasi dan pemetaan modal budaya agama merupakan langkah yang sangat penting untuk melihat keberadaan kegiatan dan ritual kebudayaan dan keagamaan dalam suatu komunitas, termasuk kelembagaan dan tokoh- tokoh penting yang berperan langsung atau tidak langsung di dalamnya.
  • Sangat penting kita mengetahui sejauh mana keberadaan ritual keagamaan dan kebudayaan yang ada di masyarakat serta pola relasi yang tercipta di antaranya dan selanjutnya bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk menunjang pengembangan perencanaan dan kegiatan bersama.

Menjadi kepala sekolah adalah sebuah amanah untuk menjalankan tiga tujuan tertinggi mengembangkan sekolah (ultimate concern). Pertama, menjalankan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan di sekolah. (Daoed Joesoef, 2018). Kedua, mengelola sekolah agar tumbuh berkembang harmonis bersama dengan kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat di sekitarnya. (Daoed Joesoef, 2014). Ketiga, dalam buku kerja kepala sekolah, menjaga dan membudayakan nilai-nilai karakter dan moral agar bisa hidup tumbuh dan berkembang di dalam dunia pendidikan, yakni di lingkungan sekolah diantara guru, siswa, orang tua, masyarakat dan lingkungan menjadi aspek penting dalam pengelolaan sekolah. (Kemdikbud, 2017).

Kemampuan, kekuatan, kesanggupan, dan/atau daya kepemimpinan yang dimiliki oleh kepala sekolah yang memungkinkan kepala sekolah mempengaruhi, menggerakkan, memberdayakan dan mengembangkan sumber daya yang dimiliki sekolah adalah potensi kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah harus menjadi learning model agen perubahan di sekolah yang efektif (Agent of Change). (Michael Fullan, 2014). Kepala sekolah harus berani mengubah kondisi yang ada sekarang, yang masih kurang baik situasi dan kondisinya, menjadi lebih baik lagi. (Ken Robinson, 2019). Kepemimpinan kepala sekolah adalah untuk mengubah sekolah dan menjadikan hal-hal baik yang belum ada menjadi ada di sekolah dan di lingkungan sekolah secara keseluruhan. (LPPKS, 2019).

Untuk itu, kompetensi kepala sekolah dikembangkan berdasarkan Permendiknas No 13 Tahun 2007 meliputi Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi Akademik dan Sosial. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 6 Tahun 2018 tentang penugasan guru sebagai kepala sekolah, tugas dan fungsi kepala sekolah antara lain 1) mengelola manajerial sekolah, 2) melakukan supervisi akademik dan manajerial, dan 3) mengembangkan kewirausahaan sekolah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Pengembangan sekolah merupakan sebuah perjalanan panjang bagi kepala sekolah untuk belajar mengembangkan kompetensi kewirausahaan menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Bagaimana kepala sekolah belajar dari pengalaman baik (best practice) mengembangkan sekolah yang sudah pernah dilakukan selama ini.

Sumber: Modul Pengembangan Kewirausahaan

DownloadBuku Praktik Baik Kepemimpinan Pembelajaran Kepala Sekolah (Unduh disini)

Semoga Bermanfaat.

Model Kompetensi Kepala Sekolah

Seiring perkebangan zaman (kodrat zaman) tuntutan kompetensi kepala sekolah mengalamai pergeseran sesuai dengan tuntutan kemajuan zaman. Hal ini dijelaskan dalam Peraturan Direktur Jendral Guru dan tenaga Kependidikan Nomor 6565/B/GT/2020 tentang Model Kompetensi dalam Pengembangan Profesi Guru (download)


Kategori Model kompetensi Kepemimpinan Kepala Sekolah meliputi sebagai berikut.

1. Pengembangan diri dan orang lain dengan kompetensi sebagai berikut:
  1. menunjukkan praktik pengembangan diri berdasarkan kesadaran dan kemauan pribadi;
  2. mengembangkan kompetensi warga sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran;
  3. berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi yang relevan dengan kepemimpinan sekolah untuk mengembangkan karier; dan
  4. menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan emosi untuk berperilaku sesuai dengan kode etik.
2. Kepemimpinan pembelajaran dengan kompetensi sebagai berikut:
  1. memimpin upaya pengembangan lingkungan belajar yang berpusat pada murid;
  2. memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid;
  3. memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid; dan
  4. melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah.
3. Kepemimpinan manajemen sekolah dengan kompetensi sebagai berikut:
  1. mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berorientasi pada murid; 
  2. memimpin dan mengelola program sekolah yang berdampak pada murid.
4. Kepemimpinan pengembangan sekolah dengan kompetensi sebagai berikut:
  1. memimpin program pengembangan sekolah untuk mengoptimalkan proses belajar murid dan mendukung kebutuhan masyarakat sekitar sekolah yang relevan; dan
  2. melibatkan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pengembangan sekolah.

Indikator Setiap Model Kompetensi Kepala Sekolah

#1. Pengembangan diri dan orang lain
1. Menunjukkan praktik pengembangan diri berdasarkan kesadaran dan kemauan pribadi
Indikator Kompetensi:
  1. Mengenali potensi diri dalam kepemimpinan pendidikan.
  2. Mengambil inisiatif, menetapkan tujuan, dan merencanakan pengembangan diri sesuai dengan kebutuhan kepemimpinan pendidikan yang dihadapi.
  3. Melakukan pengembangan diri sesuai dengan yang direncanakan.
  4. Melakukan refleksi terhadap hasil pengembangan diri untuk perbaikan
2. Mengembangkan kompetensi warga sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
Indikator Kompetensi:
  1. Memetakan kebutuhan belajar warga sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
  2. Melakukan pendampingan kepada guru untuk melakukan pengembangan diri.
  3. Melakukan pendampingan kepada guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
  4. Mendorong warga sekolah menguasai kompetensi yang dibutuhkan.
  5. Memberikan kesempatan kepada warga sekolah untuk melakukan pengembangan kompetensi di luar sekolah.
3. Berpartisipasi aktif dalam jejaring dan organisasi yang relevan dengan kepemimpinan sekolah untuk mengembangkan karier.
Indikator Kompetensi:
  1. Ikut serta dalam kegiatan jejaring dan organisasi yang relevan dengan kepemimpinan sekolah
  2. Berbagi praktik baik kepemimpinan sekolah dalam kegiatan jejaring dan organisasi yang relevan.
  3. Mengadopsi dan mengadaptasi praktik baik kepemimpinan dari kegiatan jejaring dan organisasi yang relevan
  4. Mendampingi pimpinan sekolah lain dalam pengembangan karier melalui jejaring dan organisasi yang relevan dengan kepemimpinan sekolah.
  5. Berinisiatif mengembangkan dan memberdayakan jejaring dan organisasi kepemimpinan sekolah.
4. Menunjukkan kematangan spiritual, moral, dan emosi untuk berperilaku sesuai dengan kode etik
Indikator Kompetensi:
  1. Mengaktualisasikan makna, tujuan, dan pandangan hidup pimpinan sekolah berdasarkan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  2. Mengelola emosi agar berdampak positif dalam kepemimpinan sekolah
  3. Menggunakan prinsip moral dalam melakukan pengambilan keputusan
  4. Melaksanakan perilaku kerja dan praktik kepemimpinan yang mengacu pada kode etik
  5. Menerapkan strategi untuk menghindari pelanggaran kode etik dan konflik kepentingan
#2. Kepemimpinan Pembelajaran
1. Memimpin upaya pengembangan lingkungan belajar yang berpusat pada murid
Indikator Kompetensi:
  1. Mengembangkan dan merawat lingkungan sekolah yang nyaman dan aman bagi warga sekolah
  2. Mengembangkan komunikasi dan interaksi warga sekolah yang saling percaya dan peduli.
  3. Memfasilitasi masukan dan aspirasi murid dalam penyusunan kebijakan pegembangan lingkungan belajar dan pelaksanaan praktik belajar.
  4. Memastikan guru melibatkan murid dalam membangun lingkungan belajar yang kondusif
2. Memimpin perencanaan dan pelaksanaan proses belajar yang berpusat pada murid.
Indikator Kompetensi:
  1. Memimpin pertemuan guru untuk merencanakan proses belajar yang berpusat pada murid.
  2. Memberi umpan balik terhadap perencanaan dan pelaksanaan proses belajar sebagai dasar bagi guru melakukan perbaikan.
  3. Menunjukkan praktik pembelajaran yang berpusat pada murid sebagai teladan bagi guru.
  4. Menyediakan dukungan agar guru fokus dalam melaksanakan proses belajar yang berpusat pada murid.
3. Memimpin refleksi dan perbaikan kualitas proses belajar yang berpusat pada murid.
Indikator Kompetensi:
  1. Mengoordinasi pengumpulan dan pengolahan data terkait proses dan hasil belajar murid.
  2. Mengoordinasi evaluasi praktik pembelajaran berdasarkan data terkait proses dan hasil belajar murid.
  3. Memimpin pertemuan refleksi secara berkala untuk perbaikan kualitas proses belajar.
  4. Membimbing guru untuk melakukan perbaikan kualitas proses belajar berdasarkan hasil dari refleksi.
4. Melibatkan orang tua/wali murid sebagai pendamping dan sumber belajar di sekolah.
Indikator Kompetensi:
  1. Mendukung guru untuk memahami kebutuhan dan karakteristik orang tua/wali murid
  2. Menginisiasi komunikasi dan interaksi dengan orang tua/wali murid.
  3. Menyediakan dukungan kepada guru agar dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang tua/wali murid.
  4. Menyediakan kesempatan terbuka bagi orang tua/wali murid untuk menyampaikan pendapat.
  5. Menyediakan kesempatan bagi orang tua/wali murid untuk berperan sebagai pendamping dan sumber belajar.
  6. Mendorong orang tua/wali murid untuk menggunakan kesempatan sebagai pendamping dan sumber belajar
#3. Kepemimpinan Manajemen Sekolah
1. Mengembangkan dan mewujudkan visi sekolah yang berorientasi pada murid
Indikator Kompetensi:
  1. Memfasilitasi keikutsertaan warga sekolah dalam penyusunan visi dan misi sekolah serta programnya.
  2. Menumbuhkan budaya belajar warga sekolah yang berorientasi pada murid untuk mewujudkan visi dan misi sekolah.
  3. Mengomunikasikan visi dan misi sekolah dengan menggunakan basis bukti dan data melalui berbagai media.
  4. Memberi kesempatan pada warga sekolah untuk mencoba pendekatan baru secara iteratif dan reflektif sesuai perannya dalam mewujudkan visi dan misi sekolah.
  5. Mengevaluasi implementasi program secara berkala untuk mewujudkan visi dan misi sekolah.
2. Memimpin dan mengelola program sekolah yang berdampak pada murid.
Indikator Kompetensi:
  1. Menyusun program prioritas dalam merancang program yang sesuai dengan visi dan misi sekolah, realistis, dan berorientasi pada murid
  2. Mendapatkan sumber daya yang sesuai dan dapat dipertanggungjawabkan untuk melaksanakan program sekolah.
  3. Memberdayakan sumber daya sekolah yang tersedia secara efektif dan efisien untuk meningkatkan kualitas belajar.
  4. Menunjukkan praktik baik pelaksanaan program sekolah yang berdampak pada murid.
  5. Mengarahkan warga sekolah untuk menjalankan program dengan menjelaskan keterkaitan program dengan visi dan misi sekolah
  6. Memantau dan memberi umpan balik untuk memotivasi warga sekolah dalam menjalankan program yang berdampak pada murid.
  7. Memandu pertemuan secara berkala untuk merefleksikan dan memperbaiki pelaksanaan program sekolah agar lebih berdampak pada murid.
#4. Kepemimpinan Pengembangan Sekolah
1. Memimpin program pengembangan sekolah untuk mengoptimalkan proses belajar murid dan mendukung kebutuhan masyarakat sekitar sekolah yang relevan.
Indikator Kompetensi:
  1. Melakukan evaluasi diri sekolah yang melibatkan warga sekolah dengan berbasis data dan bukti
  2. Menentukan prioritas, merancang, dan melaksanakan program pengembangan sekolah dengan mengacu pada kebutuhan murid, ketersediaan sumber daya, serta visi dan misi
  3. Menginisiasi program pengembangan sekolah dalam lingkup terbatas untuk mendapatkan bukti keberhasilan sebelum diterapkan pada lingkup yang lebih luas
  4. Mengimplementasikan pendekatan inovatif untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi program pengembangan sekolah
  5. Mengorganisasi proses pengembangan sekolah untuk memastikan peningkatan kualitas proses belajar yang berdampak pada murid
  6. Mewujudkan peran sekolah untuk mendukung kebutuhan masyarakat sekitar sekolah yang relevan
2. Melibatkan orang tua/wali murid dan masyarakat dalam pengembangan sekolah
Indikator Kompetensi:
  1. Mengomunikasikan pentingnya pengembangan sekolah untuk peningkatan kualitas belajar murid kepada orang tua/wali murid dan masyarakat.
  2. Menyediakan kesempatan bagi orang tua/wali murid dan masyarakat untuk mengambil peran dalam pengembangan sekolah.
  3. Mengomunikasikan dampak hasil pengembangan sekolah pada peningkatan kualitas belajar murid kepada orang tua/wali murid dan masyarakat.
Sudah saatnya Kepala Sekolah memanfaatkan Forum MKKS, AKSI untuk meningkatan kompetensinya secara berkesinambungan.

Semoga Bermanfaat

Cara Mendeskripsikan Capaian Raport Kurikulum Merdeka

Pelaporan hasil penilaian atau asesmen dituangkan dalam bentuk laporan kemajuan belajar, yang  berupa laporan hasil belajar, yang disusun be...