Tampilkan postingan dengan label Asesmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asesmen. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Oktober 2024

Cara Mendeskripsikan Capaian Raport Kurikulum Merdeka

Pelaporan hasil penilaian atau asesmen dituangkan dalam bentuk laporan kemajuan belajar, yang berupa laporan hasil belajar, yang disusun berdasarkan pengolahan hasil Penilaian. Laporan hasil belajar paling sedikit memberikan informasi mengenai pencapaian hasil belajar peserta didik. Satuan pendidikan perlu melaporkan hasil belajar dalam bentuk rapor. (PPA 2024, hal 59)

Deskripsi capaian kompetensi peserta didik berisi informasi tentang kompetensi yang sudah dicapai dan kompetensi yang perlu ditingkatkan. Deskripsi ditulis menggunakan kalimat positif dan memotivasi. Deskripsi ini berdasarkan capaian peserta didik terhadap tujuan pembelajaran yang ditetapkan per mata pelajaran. (PPA 2024, hal 59). Dalam penyusunan deskripsi capaian kompetensi, pendidik harus mengidentikasi capaian kompetensi tertinggi dan terendah.

Jika dikaitkan dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP), terdapat aturan dalam PPA 2024 halaman 48 sbb: Para pendidik menyepakati bahwa rentang nilai 0-55 belum masuk kategori ketercapaian dan 56-100 sudah masuk kategori ketercapaian. Penentuan rentang angka ini dapat merujuk pada BAB III. Sebelum menyepakati rentang nilai, pendidik terlebih dahulu menentukan kriteria/indikator ketercapaian tujuan pembelajaran. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa Pendidik membuat kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, bukan hanya berupa angka.

Berdasarkan kategori tersebuat satuan pendidikan dapat membuat interval peneskripsian capaian hasil belajar raport kurikulum merdeka sbb:

Setidaknya ada 4 gradasi dalam mendeskripsikan capaian pembelajaran, sbb:
  • Menunjukkan penguasaan yang sangat baik
  • Menunjukkan penguasaan yang baik
  • Menunjukkan penguasaan yang kurang baik
  • Perlu pendampingan/bimbingan
Implementasinya dalam aplikasi nilai raport sbb:
Maka dekripsiknya sebagai berikut;

Contoh pendeskripsian yang kurang tepat dan dapat melemahkan motivasi belajar peserta didik.

Kekeliruan yang nyata, capaian nilai 99 muncul deskripsi membutuhkan bimbingan, padahal capaian nilai 99 itu nilai tertingginya adalah 100 dan nilai terendahnya 98. 

Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:

Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 

Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 

Terima Kasih

Jumat, 04 Oktober 2024

Mekanisme Kenaikan Kelas


Satuan pendidikan memiliki keleluasaan untuk menentukan kriteria kenaikan kelas. Penentuan kenaikan kelas dilakukan dengan mempertimbangkan laporan kemajuan belajar yang mencerminkan pencapaian peserta didik pada semua mata pelajaran, projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan ekstrakurikuler serta prestasi lain selama 1 (satu) tahun ajaran. 

Dalam proses penentuan peserta didik tidak naik kelas, perlu dilakukan musyawarah antara pendidik, yang mempertimbangkan keseluruhan proses belajar peserta didik serta pendampingan oleh pendidik dari awal tahun ajaran, sehingga opsi tidak naik kelas menjadi pilihan paling akhir.

Untuk menilai pencapaian hasil belajar peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dapat berdasarkan penilaian sumatif. Penilaian pencapaian hasil belajar peserta didik untuk kenaikan kelas dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.

Pembelajaran terdiferensiasi sesuai tahap capaian peserta didik menjadi salah satu praktik yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka.

Penggunaan fase dalam Capaian Pembelajaran adalah salah satu alasan mengapa peserta didik dapat terus naik kelas bersama teman-teman sebayanya meskipun ia dinilai belum sepenuhnya mencapai kompetensi yang ditetapkan dalam Capaian Pembelajaran di fase sebelumnya atau tujuan pembelajaran yang ditargetkan untuk dicapai pada kelas tersebut.

Pembelajaran dilaksanakan sesuai tahap capaian peserta didik (teaching at the right level). Setiap peserta didik mempelajari tujuan pembelajaran yang sama dalam setiap pertemuan, namun bagi peserta didik yang tidak dapat mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran perlu ditindaklanjuti dengan memberikan pendampingan tambahan, pendampingan ini dilakukan dari awal dan selama proses pembelajaran. Harapannya tidak ada peserta didik yang belum mencapai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran pada batas waktu yang ditentukan satuan pendidikan.

Apabila terdapat tujuan pembelajaran pada mata pelajaran tertentu yang tidak tercapai sampai saatnya kenaikan kelas, maka pada rapor peserta didik tersebut dituangkan nilai aktual yang dicapai dan dideskripsikan bahwa peserta didik tersebut masih memiliki tujuan pembelajaran yang perlu ditindaklanjuti di kelas berikutnya.

Opsi tidak naik kelas, harus dilakukan dengan sangat hati hati, dengan tujuan untuk membantu mengembangkan kompetensi dan karakter peserta didik. Hal ini dilakukan karena mengulang semua pelajaran yang sama selama satu tahun tidak membuat peserta didik memiliki kemampuan akademik yang setara dengan teman-temannya, bahkan lebih rendah. Peserta didik tersebut membutuhkan pendekatan atau strategi belajar yang berbeda, bantuan belajar yang lebih intensif, dan waktu yang lebih panjang.

Dalam hal terjadi kasus luar biasa, jika terdapat banyak mata pelajaran yang tidak tercapai oleh peserta didik dan/atau terkait isu sikap dan karakter peserta didik, maka satuan pendidikan dapat menetapkan tidak naik kelas. Namun demikian, keputusan ini sebaiknya dipertimbangkan dengan sangat hati-hati mengingat dampaknya terhadap kondisi psikologis peserta didik.

Dengan demikian, kebijakan tidak naik kelas adalah kebijakan yang tidak efisien. Peserta didik harus mengulang semua mata pelajaran untuk jangka waktu satu tahun penuh, padahal mungkin bukan itu yang menjadi kebutuhan belajar mereka. Berikut ini adalah contoh-contoh isu yang biasanya menjadi faktor pendorong keputusan tidak naik kelas, serta alternatif solusi yang lebih sesuai dengan perkembangan dan kesejahteraan (well-being) peserta didik.




Semoga Bermanfaat.

Pengolahan Hasil Asesmen


1. Mengolah Hasil Asesmen dalam Satu Tujuan Pembelajaran
Asesmen sumatif dilaksanakan secara periodik setiap selesai satu atau lebih tujuan pembelajaran. Hasil asesmen perlu diolah menjadi capaian dari tujuan pembelajaran setiap peserta didik. Pendidik dapat menggunakan data kualitatif sebagai hasil asesmen tujuan pembelajaran peserta didik.

Contoh:
Pendidik telah melaksanakan asesmen untuk salah satu tujuan pembelajaran mata pelajaran IPAS Fase C: Menyelidiki ragam sumber energi yang dapat dimanfaatkan di lingkungan sekitar, dengan indikator terdiri atas:
  1. 1. mampu menguraikan manfaat sumber energi; dan
  2. 2. mampu menjelaskan ragam sumber energi alternatif.
Indikator 1 dan 2 menggunakan teknik tes tertulis dan essay. Hasil asesmen sumatif peserta didik dipetakan ke dalam 4 kualitas, yaitu: 1) perlu bimbingan; 2) cukup; 3) baik; dan 4) sangat baik.

Pendidik menentukan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran pada kualitas yang diyakininya, misalkan pada kualitas cukup, peserta didik dianggap telah mencapai kriteria ketercapaian kompetensi. Adapun pengolahan hasil asesmen tujuan pembelajaran dapat disajikan seperti dalam tabel berikut ini.
2. Mengolah Hasil Asesmen dari Beberapa Tujuan Pembelajaran Menjadi Nilai Akhir 

Capaian belajar peserta didik menjadi bahan yang diolah menjadi nilai akhir mata pelajaran dalam kurun waktu pelaporan (biasanya satu semester). Untuk mendapatkan nilai akhir mata pelajaran tersebut, data kuantitatif langsung diolah, sedangkan untuk deskripsi, pendidik dapat memberikan penjelasan mengenai kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik, dan kompetensi yang belum dikuasai, serta dapat ditambahkan tindak lanjut secara ringkas bila ada.

Contoh: Para pendidik menyepakati bahwa rentang nilai 0-55 belum masuk kategori ketercapaian dan 56-100 sudah masuk kategori ketercapaian. Penentuan rentang angka ini dapat merujuk pada BAB III. Sebelum menyepakati rentang nilai, pendidik terlebih dahulu menentukan kriteria/indikator ketercapaian tujuan pembelajaran. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa Pendidik membuat kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, bukan hanya berupa angka.

Pengolahan Nilai Raport.
Pengolahan nilai dalam panduan ini menggunakan tiga opsi yaitu pembobotan, persentase dan rata-rata. Opsi pembobotan dan persentase dipilih dengan ketentuan materi pembelajaran bersifat progresif, atau berkaitan langsung.



Menyusun Deskripsi Capaian Kompetensi pada Rapor;

Dalam penyusunan deskripsi capaian kompetensi, pendidik harus mengidenti
kasi capaian kompetensi tertinggi dan terendah. Untuk melihat capaian kompetensi tertinggi ditandai dengan warna hijau dan capaian kompetensi terendah ditantai dengan warna merah.

Berdasarkan contoh pendeskripsian di atas, capaian nilai 85 di deskripsikan sebagai Menunjukkan penguasaan yang baik, sementara capaian nilai 60 dideskripsikan sebagai Perlu pendampingan. 

Setidaknya ada 4 gradasi dalam mendeskripsikan capaian pembelajaran, sbb:
  1. Menunjukkan penguasaan yang sangat baik
  2. Menunjukkan penguasaan yang baik
  3. Menunjukkan penguasaan yang kurang baik
  4. Perlu pendampingan/bimbingan
Implementasinya dalam aplikasi nilai raport sbb:

Contoh implementasi dalam aplikasi nilai raport:

Contoh yang keliru dalam implementasi pada aplikasi nilai raport:

Kekeliruan yang nyata, capaian nilai 99 muncul deskripsi membutuhkan bimbingan, padahal capaian nilai 99 itu nilai tertingginya adalah 100 dan nilai terendahnya 98. 

Semoga Bermanfaat.

Rabu, 25 September 2024

Perancangan Asesmen yang Berpusat pada Peserta Didik

Perancangan asesmen yang berpusat pada peserta didik adalah suatu pendekatan dalam merancang penilaian yang menempatkan siswa sebagai subjek utama dalam proses belajar dan penilaian. Dalam pendekatan ini, asesmen tidak hanya sekadar mengukur pencapaian siswa terhadap tujuan pembelajaran, tetapi juga memberikan umpan balik yang konstruktif untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa.

Karakteristik utama perancangan asesmen yang berpusat pada peserta didik:

  • Berfokus pada Proses: Asesmen tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga mengamati proses berpikir dan pemahaman siswa selama belajar.
  • Beragam Metode/Bentuk: Menggunakan berbagai metode asesmen yang sesuai dengan karakteristik siswa dan materi pembelajaran, seperti tes tertulis, proyek, presentasi, portofolio, dan observasi.
  • Melibatkan Siswa: Siswa aktif terlibat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan asesmen, sehingga mereka memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri.
  • Berorientasi pada Pengembangan: Asesmen digunakan sebagai alat untuk membantu siswa mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka, serta menetapkan tujuan pembelajaran selanjutnya.
  • Kontekstual: Asesmen dirancang sesuai dengan konteks pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari.
  • Bersifat Formatif: Asesmen dilakukan secara terus-menerus selama proses pembelajaran untuk memberikan umpan balik yang segera kepada siswa sehingga mereka dapat memperbaiki kinerja mereka.
  • Melibatkan Siswa: Siswa dilibatkan secara aktif dalam proses penilaian, baik dalam menentukan kriteria penilaian maupun dalam melakukan refleksi diri.
  • Berorientasi pada Pertumbuhan: Asesmen lebih fokus pada perkembangan kemampuan siswa dari waktu ke waktu daripada hanya pada hasil akhir.
  • Menghargai Perbedaan Individu: Asesmen mengakui bahwa setiap siswa memiliki gaya belajar dan kecepatan belajar yang berbeda-beda.
  • Bersifat Autentik: Asesmen dirancang untuk merefleksikan situasi nyata yang mungkin dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
  • Berkelanjutan: Asesmen dilakukan secara terus-menerus sepanjang proses pembelajaran, bukan hanya pada akhir pembelajaran.

Tujuan:

  • Meningkatkan Motivasi Belajar: Dengan melibatkan siswa dalam proses asesmen, motivasi belajar mereka akan meningkat karena mereka merasa dihargai dan memiliki tujuan yang jelas.
  • Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis: Asesmen yang berpusat pada peserta didik mendorong siswa untuk berpikir kritis, menganalisis informasi, dan memecahkan masalah.
  • Memberikan Umpan Balik yang Konstruktif: Umpan balik yang diberikan berdasarkan hasil asesmen membantu siswa memahami kesalahan mereka dan memperbaiki kinerja mereka.
  • Memfasilitasi Pembelajaran yang Personalisasi: Asesmen memungkinkan guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan dan gaya belajar masing-masing siswa.
  • Membantu Siswa Mencapai Potensi Maksimal: Melalui umpan balik yang konstruktif, siswa dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan mengembangkan strategi belajar yang efektif.
  • Membuat Pembelajaran Lebih Bermakna: Dengan menghubungkan asesmen dengan pengalaman belajar siswa, pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.
  • Membantu Guru dalam Mengambil Keputusan Pembelajaran: Hasil asesmen dapat digunakan oleh guru untuk menyesuaikan pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
  • Memahami Proses Belajar Siswa: Mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, dan gaya belajar yang berbeda-beda pada setiap siswa.
  • Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Membantu guru dalam menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individu siswa.

Contoh Penerapan:

  • Portofolio: Siswa mengumpulkan berbagai karya selama satu periode untuk menunjukkan perkembangan kemampuan mereka.
  • Penilaian Antar Teman: Siswa memberikan umpan balik kepada teman sekelasnya tentang pekerjaan mereka.
  • Proyek Kelompok: Siswa bekerja sama dalam menyelesaikan proyek yang kompleks dan saling memberikan umpan balik.
  • Penilaian diri: Siswa diminta untuk merefleksikan pembelajaran mereka dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan diri.
  • Diskusi kelompok: Melalui diskusi, guru dapat mengamati kemampuan siswa dalam berkomunikasi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah.
  • Proyek berbasis masalah: Siswa diajak untuk mencari solusi atas masalah nyata yang relevan dengan kehidupan mereka.
  • Presentasi: Siswa mempresentasikan hasil proyek mereka kepada teman sekelas atau guru.
  • Jurnal refleksi: Siswa menuliskan pemikiran dan perasaan mereka tentang proses belajar yang mereka alami.

Manfaat:

  • Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Asesmen yang berpusat pada peserta didik membantu guru mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dalam pembelajaran.
  • Memperkuat Hubungan Guru-Siswa: Keterlibatan siswa dalam proses asesmen memperkuat hubungan antara guru dan siswa.
  • Mempersiapkan Siswa untuk Kehidupan Nyata: Keterampilan yang dikembangkan melalui asesmen yang berpusat pada peserta didik sangat berguna dalam kehidupan nyata.

Perancangan asesmen yang berpusat pada peserta didik merupakan pendekatan yang efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan membantu siswa mencapai potensi maksimal mereka. Dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses penilaian, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih bermakna dan memotivasi.

Semoga Bermanfaat.

Bacaan lainnya:

Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 

Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 

Terima Kasih

Kamis, 19 September 2024

Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)


Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran Kurikulum Merdeka.

Asesmen sumatif dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Asesmen sumatif digunakan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran. (PPA 2024 h-5).

Pendidik menentukan kriteria ketercapaian dan menyampaikannya pada peserta didik, sehingga mereka memahami ekspektasi yang perlu dicapai. (PPA 2024 h-8).

Penilaian pencapaian hasil belajar peserta didik dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. (PPA 2024 h-28).

Untuk mengetahui apakah peserta didik telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran, pendidik perlu menetapkan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini dikembangkan saat pendidik merencanakan asesmen, yang dilakukan saat pendidik menyusun perencanaan pembelajaran, baik dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran ataupun modul ajar. (PPA 2024 h-29).

Kriteria ketercapaian ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih/membuat instrumen asesmen, karena belum tentu suatu asesmen sesuai dengan tujuan dan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini merupakan penjelasan (deskripsi) tentang kemampuan apa yang perlu ditunjukkan/didemonstrasikan peserta didik sebagai bukti (evidence) bahwa ia telah mencapai tujuan pembelajaran. (PPA 2024 h-29).

Ketercapaian tujuan pembelajaran tidak disarankan untuk menggunakan angka mutlak (misalnya 75, 80, dan sebagainya) sebagai kriteria. Yang paling disarankan adalah menggunakan deskripsi, namun jika dibutuhkan, pendidik diperkenankan untuk menggunakan interval nilai (misalnya 70-85, 85-100, dan sebagainya). Penetapan angka interval diperoleh berdasarkan ciri/kriteria, atau deskripsi dalam rubrik penilaian. Dengan kata lain, sebelum Pendidik menetapkan angka pada interval nilai, pendidik perlu terlebih dahulu menetapkan kriteria atau deskripsi ketercapaian. (PPA 2024 h-29).

Dengan demikian, kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran dapat dikembangkan pendidik dengan menggunakan beberapa pendekatan, di antaranya: 1. menggunakan deskripsi kriteria; 2. menggunakan rubrik; 3. menggunakan skala atau interval nilai; 4. menggunakan persentase, atau pendekatan lainnya sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan pendidik dalam mengembangkannya. (PPA 2024 h-29).

Contoh: Para pendidik menyepakati bahwa rentang nilai 0-55 belum masuk kategori ketercapaian dan 56-100 sudah masuk kategori ketercapaian. Penentuan rentang angka ini dapat merujuk pada BAB III. Sebelum menyepakati rentang nilai, pendidik terlebih dahulu menentukan kriteria/indikator ketercapaian tujuan pembelajaran. Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa Pendidik membuat kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, bukan hanya berupa angka. (PPA 2024 h-48)

Contoh KKTP yang memuat asesmen beragam untuk melayani keberagaman karakteristik peserta didik. (Tidak ada format baku)

Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 


Terima Kasih

Asesmen Formatif Kurikulum Merdeka


Asesmen Formatif Kurikulum Merdeka

Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen formatif dilakukan dengan mengumpulkan informasi mengenai peserta didik yang mengalami hambatan atau kesulitan belajar dan perkembangan belajar peserta didik. 

Informasi tersebut digunakan sebagai umpan balik bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dalam memonitor proses dan kemajuan belajar sebagai bagian dari keterampilan belajar sepanjang hayat. Sedangkan bagi pendidik hasil asesmen digunakan untuk merefleksikan dan meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Asesmen formatif dapat berupa asesmen pada awal dan saat pembelajaran. Asesmen pada awal pembelajaran digunakan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dalam kaitannya dengan tujuan pembelajaran tertentu, sehingga pendidik bisa melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. 

Asesmen formatif pada saat pembelajaran digunakan sebagai dasar dalam melakukan refleksi terhadap keseluruhan proses belajar yang dapat dijadikan acuan untuk perencanaan pembelajaran dan melakukan revisi apabila diperlukan. Apabila peserta didik dirasa telah mencapai tujuan pembelajaran, maka pendidik dapat meneruskan pada tujuan pembelajaran berikutnya. Namun, apabila tujuan pembelajaran belum tercapai, pendidik perlu melakukan penguatan terlebih dahulu. (PPA 2024 hal 4).

Asesmen formatif, yaitu asesmen yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi pendidik dan peserta didik untuk memperbaiki proses belajar. Asesmen formatif berupa:
  • Asesmen di awal pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui kesiapan peserta didik untuk mempelajari materi ajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan. Asesmen ini termasuk dalam kategori asesmen formatif karena ditujukan untuk kebutuhan pendidik dalam merancang dan menyesuaikan pembelajaran, tidak untuk keperluan penilaian hasil belajar peserta didik yang dilaporkan dalam rapor.
  • Asesmen di dalam proses pembelajaran yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan sekaligus pemberian umpan balik yang cepat. Biasanya asesmen ini dilakukan sepanjang atau di tengah kegiatan/langkah pembelajaran, dan dapat juga dilakukan di akhir langkah pembelajaran. Asesmen ini juga termasuk dalam kategori asesmen formatif.
Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar, hambatan atau kesulitan yang dihadapi peserta didik. Asesmen formatif juga digunakan untuk memperoleh informasi perkembangan peserta didik dalam proses pembelajaran. Informasi tersebut merupakan umpan balik bagi pendidik dan peserta didik. (PPA 2024 hal 26).

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pendidik dalam merancang asesmen formatif, antara lain sebagai berikut :
  • tidak berisiko tinggi. Asesmen formatif dirancang untuk tujuan pembelajaran dan tidak seharusnya digunakan untuk menentukan nilai rapor, keputusan kenaikan kelas, kelulusan, atau keputusankeputusan penting lainnya.
  • menggunakan berbagai teknik dan/atau instrumen. Asesmen formatif dapat dilakukan dengan teknik observasi, atau menggunakan instrumen asesmen diri, dan asesmen antar teman.
  • dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga asesmen formatif dan pembelajaran menjadi suatu kesatuan.
  • dapat menggunakan metode yang sederhana, sehingga umpan balik hasil asesmen tersebut dapat diperoleh dengan cepat.
  • Asesmen formatif yang dilakukan di awal pembelajaran akan memberikan informasi kepada pendidik tentang kesiapan belajar peserta didik. Berdasarkan asesmen ini, pendidik perlu menyesuaikan/memodifikasi rencana pelaksanaan pembelajarannya dan/atau membuat diferensiasi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
  • Instrumen asesmen yang digunakan dapat memberikan informasi tentang kekuatan, hal-hal yang masih perlu ditingkatkan oleh peserta didik dan mengungkapkan cara untuk meningkatkan kualitas tulisan, karya atau performa yang diberi umpan balik. Dengan demikian, hasil asesmen tidak sekadar sebuah angka. PPA 2024 hal. 27
Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 


Terima Kasih

Asesmen Sumatif Kurikulum Merdeka


Asesmen Sumatif pada Kurikulum Merdeka

Asesmen sumatif dapat dilakukan setelah pembelajaran berakhir, misalnya pada akhir satu lingkup materi (dapat terdiri atas satu atau lebih tujuan pembelajaran), pada akhir semester; khusus asesmen pada akhir semester, asesmen ini bersifat pilihan. Jika pendidik merasa masih memerlukan konfirmasi atau informasi tambahan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, maka dapat melakukan asesmen pada akhir semester. 

Sebaliknya, jika pendidik merasa bahwa data hasil asesmen yang diperoleh selama 1 semester telah mencukupi, maka tidak perlu melakukan asesmen pada akhir semester. Hal yang perlu ditekankan, untuk asesmen sumatif, pendidik dapat menggunakan teknik dan instrumen yang beragam, tidak hanya berupa tes tertulis, namun dapat menggunakan observasi dan performa (praktik, menghasilkan produk, melakukan projek).

Kedua jenis asesmen ini tidak harus digunakan dalam suatu rencana pelaksanaan pembelajaran atau modul ajar, bergantung pada cakupan tujuan pembelajaran, bergantung pada cakupan tujuan pembelajaran. PPA 2024 hal 29.

Asesmen sumatif juga tidak diartikan sebagai kewajiban yang harus dilakukan di tengah atau di akhir semester. Asesmen sumatif dilakukan sesuai kebutuhan, dan dapat dilakukan untuk satu atau lebih tujuan pembelajaran. (PPA 2024 hal 34).

Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 


Terima Kasih

Asesmen Pembelajaran


Asesmen Pembelajaran Berdasarkan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024

Tahapan setelah pelaksanaan pembelajaran adalah pelaksanaan asesmen pembelajaran. Asesmen pembelajaran diharapkan dapat memberikan informasi faktual atas pencapaian perkembangan atau hasil belajar peserta didik. Bentuk asesmen meliputi asesmen formatif dan sumatif.

Asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki pembelajaran serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen formatif dilakukan dengan mengumpulkan informasi mengenai peserta didik yang mengalami hambatan atau kesulitan belajar dan perkembangan belajar peserta didik. 
Informasi tersebut digunakan sebagai umpan balik bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dalam memonitor proses dan kemajuan belajar sebagai bagian dari keterampilan belajar sepanjang hayat. Sedangkan bagi pendidik hasil asesmen digunakan untuk merefleksikan dan meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Asesmen formatif dapat berupa asesmen pada awal dan saat pembelajaran. Asesmen pada awal pembelajaran digunakan untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik dalam kaitannya dengan tujuan pembelajaran tertentu, sehingga pendidik bisa melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik. 

Asesmen formatif pada saat pembelajaran digunakan sebagai dasar dalam melakukan refleksi terhadap keseluruhan proses belajar yang dapat dijadikan acuan untuk perencanaan pembelajaran dan melakukan revisi apabila diperlukan. Apabila peserta didik dirasa telah mencapai tujuan pembelajaran, maka pendidik dapat meneruskan pada tujuan pembelajaran berikutnya. Namun, apabila tujuan pembelajaran belum tercapai, pendidik perlu melakukan penguatan terlebih dahulu.

Asesmen sumatif bertujuan untuk menilai pencapaian hasil belajar peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dan kelulusan dari satuan pendidikan. Asesmen sumatif dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Asesmen sumatif digunakan untuk memastikan ketercapaian tujuan pembelajaran.

Sumber: Panduan Pembelajaran dan Asesmen 2024 hal 4.
Semoga Bermanfaat.
Bacaan lainnya:
Aplikasi Raport Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport dikembangkan berdasarpan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka tahun 2024. 



Aplikasi Raport Projek P5 Kurikulum Merdeka

Aplikasi Raport Projeck dikembangkan berdasarpan Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila tahun 2022/2024. 


Aplikasi Supervisi Akademik Kurikulum Merdeka

Aplikasi ini bersifat Online Ofline. Maknanya, proses pengumpulan data dikemas pada kuosioner online, sehingga kepala sekolah maupun tim supervisor cukup menggunakan HP Smartphone untuk melakukannya. 


Terima Kasih

Asesmen Awal Kurikulum Merdeka


Konsep Asesmen Awal Kurikulum Merdeka Berdasarkan Panduan Pembelajaran dan Asesmen Kurikulum Merdeka Tahun 2024

Perencanaan asesmen, terutama pada asesmen awal pembelajaran perlu dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, sehingga rancangan pembelajaran sesuai dengan tahap capaian peserta didik. (PPA 2024, hal 4)

Berdasarkan asesmen awal pembelajaran, pendidik memperoleh data karakteristik peserta didik untuk dijadikan dasar variasi aktivitas pembelajaran di kelas. (PPA 2024, hal 6)

Asesmen di awal tahun pembelajaran bersifat opsional, yang lebih ditekankan adalah pelaksanaan asesmen awal sebelum melaksanakan pembelajaran. (PPA 2024, hal 27)

Melaksanakan asesmen di akhir pembelajaran untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran. Asesmen ini dapat digunakan sebagai asesmen awal pada pembelajaran berikutnya. (PPA 2024, hal 40)

Proses pembelajaran terdiferensiasi ini sebenarnya merupakan proses alami yang terjadi di kegiatan belajar peserta didik di kelas. Pendidik setelah mengetahui kondisi peserta didik tentu akan menyesuaikan strategi pembelajarannya berdasarkan hasil asesmen awal yang dilakukannya. (PPA 2024, hal 40)

Instrumen asesmen awal pembelajaran yang digunakan adalah soal isian singkat dan soal cerita yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari terkait keliling segiempat, segitiga, dan lingkaran. Berdasarkan hasil asesmen awal tersebut, pendidik melakukan pembelajaran terdiferensiasi. (PPA 2024, hal 44)

Asesmen awal: Pendidik menanyakan tentang apa saja tumbuhan dan hewan yang dilihat anak di lingkungan sekitar dan menanyakan apa yang anak ketahui tentang tempat-tempat yang dikunjungi di Banten. Hasil dari asesmen awal digunakan sebagai fokus makhluk hidup dan hal apa saja terkait Banten yang akan dieksplorasi bersama anak. (PPA 2024, hal 99)

Pertanyan pemantik tersebut adalah proses asesmen awal, agar guru mengetahui kemampuan peserta didik tentang pengukuran (pengenalan satuan panjang dari cm s/d m, pengetahuan awal untuk melakukan pengukuran yaitu garis bilangan... (PPA 2024, hal 101)

Melakukan asesmen awal untuk mengetahui pemahaman awal peserta didik dengan menjawab soal dalam bentuk kuis. (PPA 2024, hal 101, Contoh Kegiatan Pembelajaran)

PPA tahun 2024 tidak menggunakan istilah Asesmen Diagnostik, karena hal ini dilakukan oleh kalangan profesional. 

Cara Mendeskripsikan Capaian Raport Kurikulum Merdeka

Pelaporan hasil penilaian atau asesmen dituangkan dalam bentuk laporan kemajuan belajar, yang  berupa laporan hasil belajar, yang disusun be...